“Life is to be lived, not controlled; and humanity is won by continuing to play in face of certain defeat.” – Ralph Ellison, Invisible Man

Sore kelu, barisan pepohonan jagung dan ilalang terdiam mematung. Angin tak datang sore itu, dan meski mendung bergayut di bawah lapisan atmosfir, titik-titik air tak kunjung turun. Namun, dalam senja yang likat dan lengket oleh lembap, kesiur nada-nada dari alat musik yang dimainkan secara luwes, independen, kadang seolah-olah individual, lalu serempak-rancak, memancing angin menari. Dari tanah kelahirannya di benua Afrika, musik ini tidak terdampar begitu saja di pesawahan, di antara kandang-kandang ternak, dan denyut nadi hidup orang-orang desa. Selamat datang di “Ngayogjazz”.

Kota New Orleans mungkin menjadi persemaian awal musik jazz, ketika talu-taluan gendang dari ritual voodoo, diimbuhi alat tiup orang-orang eropa melahirkan sebentuk musik baru yang liar, penuh gairah dan membebaskan. Hal ini dimungkinkan karena selama masa perbudakan dalam sejarah Amerika, hanya New Orleans satu-satunya kota yang membolehkan para budak memiliki alat musik tepak dan pukul. Namun, karena didorong oleh sifatnya yang membebaskan, Jazz tidak hanya dimiliki oleh orang-orang kulit hitam, atau belakangan ikut diramaikan oleh musisi kulit putih, bahkan dimainkan pula oleh orang-orang melayu. Tidak terkecuali orang-orang pribumi.

Dalam sejarah Amerika, tidak hanya musik jazz yang mendunia, bahkan, menariknya, ada satu karya sastra yang dialu-alu sebagai sebuah karya gemilang yang ditulis dengan gaya jazz alih-alih sebentuk prosa biasa. Hal ini ditandai misalnya oleh cara si penulis melukiskan adegan aksi dalam kalimat deskriptif yang pendek dan sederhana, serta penulisan plot yang lebih lambat melalui paragraf-paragraf yang lebih panjang. Adalah Ralph Ellison, penulis sekaligus musisi, yang melahirkan novel debut dan karya satu-satunya berjudul The Invisible Man (manusia yang tak terlihat) pada 1952, diterbitkan oleh Random House, dan memenangkan anugerah buku nasional setahun setelahnya. Buku yang ditulis berdasarkan kisah protagonis kulit hitam yang hidup pada masa rawan perbudakan di Amerika ini menegaskan isu identitas dan kelas, meskipun Ellison menolak menyebutnya, dan bahkan ketika menuliskannya, sengaja menghindari karyanya sebagai sebuah protes rasial—seperti jamaknya karya sastra yang lahir pada masa itu. Ralph menggambarkan dirinya seperti musik yang tidak dapat dilihat. “Kecuali oleh para musisi, selebihnya musik hanya dapat didengar”.

Wartawan sekaligus penulis fiksi kawakan Seno Gumira Ajidarma juga meminjam jazz ketika harus bergulat dengan persoalan mewartakan peristiwa Dili saat rezim orde baru berkuasa. Laporan peristiwa-peristiwa faktual yang direkam seorang jurnalis tidak serta merta dapat lolos menjadi berita “seutuhnya” esok harinya. Data dan tulisan divermak sedemikian rupa agar terhindar dari mata-mata penguasa. Jurnalisme dibungkam, dan Seno meluapkan gejolaknya pada cerita-cerita pendek. Pada jazz, Seno seakan mewakilkan irama hasratnya yang liar dan penuh gairah , seperti ditemukan dalam karya cerpennya, namun tidak akan didapati pada karya jurnalistik Seno yang ditulis secara formal.

Adalah menarik melihat Jazz yang dikesankan musik urban perkotaan dan bahkan mewakili citra struktur kelas menengah atas, mungkin cenderung elitis, diturunkan ke bumi dan dimainkan di pesawahan seperti Ngayogjazz. Di antara impitan kandang ternak, rumah-rumah penduduk dan barisan pohon jagung dan palawija lainnya beragam alat musik dimainkan. Jazz seakan memberikan desa sebuah kuasa bahwa musik sejatinya dapat dilihat dan tidak hanya diperdengarkan. Para pengunjung yang datang ke festival jazz tahunan ini dapat melihat bagaimana notasi petak-petak sawah, cetakan kotak kebun dan rumpun bambu berteman ilalang yang menjadikannya sebuah komposisi desa yang memikat, berubah menjadi lanskap perumahan, dan tempat istirah bagi masyarakat urban baru yang memburu angin dan hijau pesawahan. Sementara itu, para petani tersuruk-suruk di tanah sawah yang mungkin tak lagi dimiliki mereka.

Mendadak saya teringat sebuah contoh memikat namun tragis dari seorang tokoh jongos di sebuah keluarga yang dikepalai oleh Dewi Ayu, dalam novel Eka Kurniawan berjudul Cantik Itu Luka. Si tokoh bernama Muin yang sejak kecil terbiasa mengambilkan piringan hitam musik klasik dan memutar gramofon di dalam rumah keluarga besar Belanda itu tiba-tiba menjadi pengangguran ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda, dan mengusir keluar semua keluarga Belanda, tak terkecuali patron keluarga besar Dewi Ayu, Ted Stammler. Sementara Dewi Ayu memulai petualangan besar dalam hidupnya kemudian, Muin berakhir di pasar rakyat memainkan topeng monyet diiringi komposisi apik Symphony nomor 9 dalam D Minor dari Beethoven. Diberkatilah desa yang diperkenalkan musik jazz!

@salmanfaridi