Sekolah perbukuan di Jerman (2): Manisnya Bisnis Toko Buku Independen”You cannot invent an algorithm that is as good at recommending books as a good bookseller,”
~ John Green , penulis buku laku The Fault in Our Stars

Sore itu, di Berlin, catatan suhu yang terpampang di telepon pintar saya menunjukkan angka 3 derajat. Oktober ini seharusnya masih musim gugur, namun paket yang saya dapatkan nyatanya sudah serasa musim dingin. Seorang kawan yang berasal dari Kerala, India bagian Selatan, yang sudah kapok karena salah memperhitungkan suhu yang jatuh sampai mendekati 1 derajat, bangkit dengan lesu. Seperti saya yang berasal dari negara tropis, dengan matahari hampir menampakkan diri sepanjang tahun, menjalani hari-hari yang menggigil memang tidak nyaman. Namun, jadwal sudah diatur, dan tuan rumah tengah menunggu. Diimbuhi rintik hujan yang perlahan bertambah kerap, kami berjalan sambil merapatkan jaket dan mengembangkan payung.

Untungnya tempat yang saya datangi bersama rombongan pegiat buku dari 16 negara yang berbeda itu menawarkan kehangatan dan kopi gratis. Ocelot adalah sebuah toko buku independen di Berlin yang berdiri untuk kali pertama pada 2012. Dengan dominasi panel kayu oak yang didesain apik di setiap sudutnya, Ocelot seakan merangkul pembeli untuk betah berlama-lama. Terlebih dalam suhu yang basah dan dingin, segelas kopi dan sebuah buku adalah kombinasi maut untuk membunuh waktu. Tidak heran, jika situs slowtravelberlin.com memasukkan toko buku ini sebagai salah satu toko buku terbaik di Berlin yang perlu dikunjungi. Termasuk saya, sore itu.

Berbeda dengan banyak toko buku lainnya yang umumnya dimiliki oleh grup distributor besar dengan jaringan yang luar biasa luas seperti Weltbild, yang memiliki 350 outlet di seluruh Jerman, atau Thalia yang diketahui mempekerjakan 5000 pegawai, Ocelot adalah toko buku independen. Selama 3 tahun beroperasi, Ocelot tidak pernah pindah dari Berlin. Namun, justru karena jumlah toko yang cuma satu-satunya ini Ocelot tetap bertahan dan fokus menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan retail besar lainnya yang cenderung transaksional. Pengalaman membaca buku yang dikombinasikan dengan aroma wangi kopi secara tak terbantahkan menggerakkan pusat saraf di otak dan memerintahkan melepaskan dopamin, senyawa utama penyebab rasa senang dan nyaman.

Yang menarik, di seluruh Jerman, tercatat ada sekitar 3.500 toko buku independen yang dikelola secara serius. Dari jumlah ini, terdapat sebanyak 300 toko buku di Berlin saja yang menyediakan katalog buku dari sekitar 400-an penerbit untuk melayani populasi sebesar 3,4 juta jiwa. Dengan total penduduk Jerman sebesar 82 juta jiwa, kurang lebih satu per tiga populasi Indonesia, pendapatan gabungan toko buku ini (di luar penjualan online, penjualan langsung via penerbit, departemen store, mail order dan outlet lainnya) memuncaki angka 4,64 miliar Euro dari total volume pasar buku sebesar 9,54 miliar Euro pada 2013 atau setara 137 triliun rupiah!

Bagaimana dengan pasar buku di Indonesia? Sejujurnya tidak mudah mencari data mutakhir dan valid yang dapat dikumpulkan tentang industri buku di Indonesia. Namun, data mutakhir yang dirilis Publishing Perspective tentang volume pasar buku di Indonesia pada 2014, nilai pasar buku kita disebutkan sebesar 693 juta dolar. Jumlah ini setara dengan 9,5 triliun rupiah, atau jika kita bandingkan dengan nilai pasar buku di Jerman, volume pasar buku di Indonesia sebesar 7% berbanding volume pasar buku di jerman. Nilai ini dikumpulkan secara agregat, dan susah payah, dari sekitar 700-an toko buku secara nasional, 43 ribuan judul buku baru dari 1400-an penerbit dengan skala berbeda-beda.

Sayangnya, nasib toko buku Independen di Indonesia tidak semujur Ocelot dan banyak toko buku lainnya di Jerman. Dalam pengalaman saya, toko buku yang nyaman dan menyenangkan itu pada akhirnya harus berjudi dengan waktu. Hanya sedikit toko yang bertahan di atas 3 tahun, dan lebih banyak lagi yang tutup sebelum 1 tahun. Konsep toko buku independen ini tampaknya gagal mendulang pendapatan yang stabil agar bisnis bukunya tetap bertahan dan tumbuh. Mungkin bagi pasar yang sedang tumbuh seperti di Indonesia dan negara berkembang lainnya yang cukup sensitif terhadap harga jual buku, masih lebih penting membeli buku dengan harga murah, daripada masuk ke toko buku yang nyaman dengan harga buku yang nyaris tidak ada diskon, belum termasuk membeli segelas kopi tambahan. Namun, situasi ini saya duga akan segera berubah jika melihat kecenderungan pertumbuhan kelas menengah baru Indonesia, dan tercepat di Asia, yang diramalkan Nielsen akan mencapai 52% pada 2020.

Malam itu saya meninggalkan Ocelot dengan kepala penuh gagasan. Sebagai oleh-oleh saya membeli 2 buah buku berukuran saku yang unik dan memancing ide sebagai bahan diskusi untuk kawan-kawan saya di Bentang. Ocelot adalah bukti bahwa sejumlah buku pilihan digabung dengan wawasan staf penjual buku yang mendalam adalah kombinasi unik dalam mendatangkan banyak pengunjung. Kekaguman saya semakin bertambah ketika Ocelot juga turut menjual buku-buku karya penulis Indonesia seperti Andrea Hirata, Okky Madasari, Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak, Ayu Utami, dan banyak lagi. Ada kehangatan yang tiba-tiba menyusup menawarkan malam kota Berlin yang makin dingin. Suhu baru saja turun mencapai 1 derajat. Dan kami berjalan memecah malam, mengeratkan ritsluiting jaket, dan menahan dingin dengan mulut terkatup. Kali ini tanpa payung terbuka.

@salmanfaridi