jenny jusuf

Sebelum menulis buku The Naked Traveler: Anthology Horror, Jenny Jusuf sering membagi kisah horornya saat traveling  di twitter. Namun, kebiasaan yang umumnya Jenny lakukan pada malam hari ini lama-kelamaan membuatnya jengah. Seringkali Jenny menjadi ketakutan sendiri mengetweet hal-hal seram di malam hari

Mendapat tawaran menulis kisah horror traveling bersama Trinity dan kawan-kawan, seketika diterima senang hati oleh Jenny. “Karena buatku, menulis seperti ini bahannya banyak,” katanya kalem.

Dalam buku terbarunya, Jenny menulis dua kisah sekaligus yang berlatar di Ubud dan Semarang. Dua daerah ini ia pilih karena menyimpan cerita yang paling seram. Meski berlatar tempat di Semarang, Jenny meyakinkan bahwa dirinya tidak menceritakan Lawang Sewu yang masuk sebagai jajaran tempat terseram di Asia.

Tak mudah untuk Jenny menulis cerita horror non fiksi meskipun banyak bahan yang tersedia. Sebab, baginya, menulis pengalaman horror sama saja memutar ulang memorinya tentang hal-hal ganjil dan rasa takut. Oleh karenanya, Jenny hanya menulis saat siang hari dan berhenti saat maghrib tiba.

Jenny sendiri sebenarnya bukan orang yang percaya hantu. “Tapi, melihat lilin bisa berpindah sendiri, gimana cara jelasinnya?” selorohnya.

@fitriafarisa