Sejarah Islam Nusantara depan“The acceptance of Islam had nothing to do with a ‘higher civilization’. Javanese political motives and tactical considerations of the aristocracy brought about Islamization.”~J.C. Van Leur, Indonesia: Trade and Society

Saat eskalasi konflik dan kekerasan dalam Islam meningkat tajam akhir-akhir ini, dunia seakan diingatkan lagi bahwa mungkin kekuatan tersisa yang menghalangi kemajuan bersama dalam dunia yang majemuk dan semakin tak berkelim ini adalah Islam. Berturut-turut adegan kekerasan yang dipertontonkan sejak peristiwa 9/11 sampai peristiwa Paris yang telah menewaskan ratusan orang, selalu melibatkan Islam sebagai tertuduh. Yang paling parah, munculnya kekuatan baru di tengah konflik Suriah yang populer disebut daesh atau Islamic State, dengan metode-metode eksekusinya yang brutal, semakin melunturkan citra agama yang didakwahkan Muhammad sebagai ajaran cinta. Sementara itu, di dalam negeri, muncul pula pertarungan klasik antara muslim moderat-lokal dan muslim puritan.

Pandangan bahwa Islam akan menjadi blok baru yang berhadapan langsung dengan Barat sebenarnya sudah lama dimunculkan oleh Samuel P. Huntington, yang pernah menulis essay kontroversial berjudul The Clash of Civilizations dalam jurnal Foreign Affairs tahun 1993 yang membuatnya dipuji maupun dikuliti banyak pemikir ilmu politik. Mengutip Arnold Toynbee, Huntington meramalkan bahwa pola konflik berikutnya akan tercipta dari tujuh atau delapan peradaban yang tersisa, yaitu peradaban Barat (Amerika dan sebagian besar negara di Eropa), Confusian (China, Taiwan serta diasporanya), Islam, Jepang, Hindu, Slavik-Ortodoks, Amerika Latin dan Afrika (hlm. 25) . Akan tetapi, apa yang diramalkan Huntington tidak sepenuhnya benar. Kenyataannya, benturan itu tidak terjadi secara frontal, saling berhadapan di antara peradaban, tetapi meledak di dalam (implosi). Peristiwa Rwanda antara suku Hutu dan Tutsi di Afrika, perang sipil di Syiria, dan bahkan salah satu contoh epik sekaligus tragis adalah misi utama kekhalifahan Abu Bakar Al-Baghdadi yang, dalam upayanya menegakkan negara Islam, menewaskan lebih banyak korban muslim.

Ledakan konflik di dalam kebudayaan ini terjadi di banyak tempat, tidak terkecuali di Indonesia. Akan tetapi, akar perseteruan di negara kepulauan ini tidak terjadi pasca perang dingin berakhir antara blok Barat-demokratis dengan komunis. Sebaliknya, seperti ditemukan dalam catatan Michael Laffan (2015), penulis Sejarah Islam di Nusantara, perebutan ideologis antara yang lokal dan “otentik”-puritan kembali pada masa-masa awal Islam masa kerajaan Samudra Pasai. Di antara akar mistik-tasawuf yang menjadi akar persebaran gagasan Islam di nusantara pada waktu itu, perdebatan antara Kamal al-Din yang mewakili cita rasa lokal, akulturasi agama dan budaya, dan Nur al-Din al-Raniri yang mementingkan peran syariah atau hukum islam sambil menolak gagasan mistik Aceh seperti yang ditulis Hamzah Fansuri yang tidak relevan terhadap tradisi Islam yang otentik. Puncak kemelut kedua ilmuwan muslim ini berakhir dengan eksekusi Kamal al-Din pada masa raja Iskandar II pada akhir abad ke- 14 (hlm. 15).

Polaritas gagasan lokal versus otentik ini tampaknya terus membayangi gagasan Islam sampai sekarang. Beberapa waktu lalu diskusi tentang bentuk Islam yang “fit-in” bagi masyarakat majemuk Indonesia ramai didiskusikan secara akademik-rasional, maupun dijadikan perang kicauan di media-sosial yang cenderung emosional. Kata kunci Islam Nusantara sebagai pengikat gagasan kemajemukan Indonesia yang mewakili belasan ribu pulau itu pada akhirnya tetap dipertandingkan dengan Islam yang lebih otentik dan mewakili kemurnian tradisi Islam yang lahir di Timur Tengah. Menariknya, dalam visi kemajemukan itu, dua organisasi besar Islam yaitu Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, meskipun mengambil pendekatan sedikit berbeda, berada pada satu kutub.
NU menegaskan pentingnya budaya dalam mewarnai agama dan menjadikan Nusantara sebagai memori kolektif untuk bergerak, sementara Muhammadiyah mewakili semangat untuk terus membawa umat dengan selamat melalui visi progresif, Islam yang berkemajuan. Sementara itu, di kutub yang lain, gerakan wahabi-salafi modern berkecambah menjadi sebentuk gerakan takfiri yang dalam upayanya untuk otentik-orisinal, tidak sungkan menebar fitnah dan sengketa, termasuk menumpangi isu Sunni dan Syiah.

Cita rasa lokal dalam gagasan Islamisasi Indonesia adalah sebuah proses panjang, namun barangkali juga memegang kunci Islam damai di masa depan. Sebab, pada masa studi Islam yang lebih berwatak orientalisme dilakukan para peneliti Barat, Islam dikesankan tidak membawa dampak dan pengaruh besar seperti pernah disinggung oleh Syed Naquib al-Attas dalam pidato pengukuhannya sebagai professor Sastra Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia pada 1973. Komentar Naquib al-Attas, seperti juga Abdul Rani (2010) ketika membandingkan gagasan N.J. Krom, Bernard H.M. Vlekke dan J.C. Van Leur, ini menandai kritiknya yang penting terhadap para sejarawan Belanda yang melihat resistensi Jawa, dengan peradabannya yang tinggi termasuk sistem falsafahnya, terhadap Islam yang dibawa para pedagang Gujarat muslim berkasta rendah―yang sejatinya, awalnya, mengantarkan para Brahmin ke Nusantara untuk mengajarkan sutra. Singkatnya, mengutip Van Leur, “Islam tak lebih ibarat glasir porselin tipis dan mudah pecah”. Padahal, Islam melalui bahasa Melayu, telah turut serta mengembangkan falsafah Islam dan dunia ilmu, dan menjadi budaya tanding bagi kebudayaan Jawa kala itu.

Tampaknya kita harus mengamini Gus Dur yang telah lebih dulu menawarkan konsep “pribumisasi” Islam sejak tahun 90-an. Dalam konsep ini, Islam tidak dipandang sebagai sesuatu yang asing, tetapi terintegrasi dengan milieu di mana ia hidup dan tumbuh. Pribumisasi Islam tampak berbeda, membumi, dan digdaya alih-alih ditempatkan di menara gading, seolah mentereng, untuk menjunjung tinggi orisinalitas tetapi miskin jiwa kebudayaan. Selain itu, peneliti sejarah Islam di Indonesia seperti M.C. Ricklefs, dalam tulisan terbarunya di Jurnal Studia Islamika (2014: 397), telah merevisi temuan-temuan lama dari para orientalis, termasuk pandangan Geertz yang pernah menulis bahwa “sangat sulit bagi orang Jawa untuk menjadi muslim yang benar,”. Ricklefs juga menambahkan temuan baru dari hasil penelitian baru bahwa rekonsiliasi tradisi Islam dan Jawa telah berjalan mulus pada masa mataram Islam ketika dipimpin Sultan Agung, dan pada akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa tidaklah benar sedemikian sulitnya bagi orang Jawa untuk menjadi muslim yang sejati.

Upaya membumikan Islam ini pastinya akan mengalami dinamika sekaligus dialektika karena seiring waktu akan mengalami tantangan baru dan akan selalu didefinisikan. Namun, becermin pada sejarah, Islam yang telah berada di Nusantara dalam waktu relatif lama, semata bertahan karena berkomplot dengan budaya. Pada Islam yang ramah dan terbuka pada gagasan ini kita akan melihat Islam Indonesia akan muncul sebagai contoh praktik Islam ramah yang saat ini saja sudah demikian signifikan, sebagai negara dengan jumlah pemeluk islam terbesar di dunia.

@salmanfaridi