Gina S. Noer dalam peluncuran buku Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner, 12 Oktober 2015.

Gina S. Noer dalam peluncuran buku Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner, 12 Oktober 2015.

Berawal dari banyaknya bahan riset film, Gina S Noer intens berkomunikasi dengan B. J Habibie. Dari situ, muncul ide untuk menulis buku Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner, sebelum nantinya diangkat ke layar lebar. Gagasan mengenai buku ini lahir sejak tiga tahun lalu, meskipun intensitas penulisannya baru setahun belakangan. Dalam buku terbarunya, Gina mengisahkan perjalanan B. J. Habibie, dari seorang anak biasa, hingga kemudian tumbuh sebagai salah satu tokoh besar di bangsa dan dunia yang sedang chaos.

Menurut Gina, banyak orang yang melihat B. J. Habibie hanya pada bagian suksesnya saja, dan memandang keberhasilan beliau merupakan bukti sukses pribadi. Padahal, sesungguhnya sukses tak pernah soal pencapaian pribadi.

“Banyak orang lupa, bahwa sukses itu bagian dari pengorbanan dan kepercayaan banyak orang. Banyak orang mengartikan sukses adalah dengan menjadi lebih kaya dari sebelumnya, padahal kaya bukan berarti selalu berguna untuk orang banyak,” kata Gina.

Gina menuturkan, bahwa buku ini sebagai perayaan atas orang-orang yang ada di balik sosok besar B. J. Habibie, seperti guru, orang tua, kawan, dsb. Dan tak hanya mengisahkan Habibie yang dibentuk oleh kejadian besar di Indonesia dan dunia pada saat itu, namun Gina juga menuliskan Habibie yang dibentuk oleh buku, musik, dan film yang disukai.

Dalam menulis, Gina sempat merasa kesulitan ketika harus mengumpulkan bahan yang berada di konteks kehidupan sekitar Habibie. Sebab, menurut Gina, Habibie adalah orang yang tak terlalu peduli dengan hal yang bukan menjadi fokusnya. Oleh karenanya, Gina menggerakkan Habibie dengan pertanyaan. Ia selalu menyusun pertanyaan yang tepat agar bisa menggali sisi kehidupan terdalam seorang B. J. Habibie.

“Tapi, eyang BJH adalah orang yang sangat baik, lucu, blak-blakan banget, dan ekspresif. Beliau orang yang sangat egaliter. Sampai saat ini, prinsip eyang yang selalu saya ingat adalah, bahwa semua orang sudah pasti tak bisa menjadi Habibie baru. Kenapa? Karena tiap orang itu unik!” Tegas Gina.

@fitriafarisa