IMG-20151008-WA0009

Demam Pangeran Ucup, sapaan akrab Pangeran Yousoef sebagai karakter utama novel Tenaga Kerja Istimewa (TKI), tak lain karena kuatnya karakter Pangeran Ucup itu sendiri. Tak hanya Pangeran Ucup, Annisa, Putri Muna, dan karakter-karakter lain dalam TKI pun dilahirkan dengan identitas matang. Hal inilah yang membuat para pembaca ikut larut dalam berbagai emosi, baik cinta, tawa, tangis, kecewa, bahkan marah.

Meskipun sukses mengobrak-abrik emosi pembaca, Naiqueen mengaku, dirinya tidak memiliki cara khusus untuk memunculkan ide liar. “Simpel. Banyak membaca, banyak melihat, dan banyak mendengar agar bisa menghasilkan sesuatu yang tak ada batasnya untuk diolah menjadi karya,” akunya.

Naiqueen membeberkan, TKI merupakan kisah yang ia tulis dengan kurasan emosi dan tenaga. Butuh beberapa riset kecil-kecilan bagi Naiqueen untuk mendapatkan suasana dan gambaran yang tepat dalam menuliskan TKI. “Cuma untuk menentukan gaun yang cocok untuk Annisa datang ke gala dinner saja saya harus obrak-abrik majalah fashion. Saya mencari tahu tren busana di Eropa selama setengah tahun ke belakang. Untuk saya yang hanya tertarik dengan gamis dan baju tidur, riset itu luar biasa bikin stres,” katanya tergelak.

Jerih payah Naiqueen dalam menulis TKI berbuah manis. Tak hanya digilai khalayak dan kisahnya dibaca 1,6 juta kali di wattpad, Bentang Pustaka akhirnya melirik kisah yang ia tulis untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Bagi Naiqueen, diterbitkannya TKI menjadi sebuah buku merupakan beban besar yang akhirnya terlepas. Sebab, sebelumnya, begitu banyak pembaca TKI yang menginginkan kisah TKI diterbitkan menjadi buku.

Meskipun menyimpan harapan yang tinggi pada TKI, diterbitkannya TKI menjadi buku seperti mimpi yang jadi kenyataan bagi Naiqueen. “Tidak ada mimpi yang tidak bisa jadi kenyataan. Buktinya, mimpi saya dan pembaca TKI memegang TKI dalam wujud hard copy sudah terjadi,” ujarnya. Naiqueen sendiri sejak awal sangat total dalam menggarap cerita TKI. Sebab, bagi Naiqueen, TKI tidak hanya miliki dirinya. “TKI adalah milik pembaca, sudah seharusnya TKI “kembali” ke tangan pecintanya,” pungkasnya.

@fitriafarisa