Ini adalah catatan CEO Bentang Pustaka dalam lawatannya sebagai peserta di Frankfurt fellowship dan Pameran Buku Frankfurt 2015.

Di antara kegiatan buku yang pernah saya jalani, saya harus akui bahwa yang paling menyenangkan dan memberikan banyak wawasan adalah Frankfurt Fellowship. Kerja jejaring perbukuan bertaraf dunia ini dimulai 15 tahun lalu, yang tentu saja menjadikan saya angkatan ke-15 sejak pertama kali dilakukan pada 2000. Rekan-rekan saya ada 16 dan berasal dari 16 negara yang berbeda. Semua berbagi isu-isu buku yang aktual dan penting untuk didiskusikan, dan jika memungkinkan, diperkenalkan dan diadaptasi ke dalam sistem perbukuan di masing-masing negara.

Tampaknya kita harus cukup iri kepada kawan-kawan perbukuan di Jerman. Salah satunya adalah lembaga yang menaungi penerbitan dan penjual buku (wholesaler, distributor) bernama Börsenverein. Institusi ini bekerja secara independen mewadahi kepentingan pelaku perbukuan, terutama dalam melakukan lobi-lobi politik kepada para pejuang kebijakan di pemerintahan. Börsenverein adalah contoh menarik ketika kita memiliki sistem yang sehat, dampaknya terasa begitu besar terhadap keberlangsungan industri buku.

Contoh paling dramatis adalah bagaimana Amazon sebagai peritel buku terbesar di dunia dibuat tak berdaya oleh sistem Fixed Book Price (FBP). Tidak seperti di Indonesia, juga negara Asia lainnya kecuali Jepang dan mungkin Thailand, FBP adalah sesuatu yang asing. Artinya secara harafiah adalah sistem penentuan harga buku yang mengatur penerbit dan wholesaler untuk menjual buku pada rentang harga yang disepakati. Penetapan harga jual ini, beserta rentang rabat atau diskonnya, begitu vital agar tidak ada pemain besar dengan rabat yang lebih besar melakukan penjualan buku dengan diskon luar biasa besar sehingga mematikan toko buku lainnya. Di sinilah kunci membuat Amazon tak berkutik. Sebab, Amazon seringkali melakukan diskon buku besar-besaran dan merusak pasar, sedangkan sistem di Jerman mengatur Amazon untuk menjual buku dengan harga yang sama di banyak toko buku di seluruh area.

Hal lainnya yang unik adalah sistem pemesanan buku yang secara cepat dipenuhi dalam waktu satu malam saja. Hal ini berlaku di semua toko dan bagi setiap pembeli yang memesan buku lewat toko buku. Uniknya lagi, wholesaler memiliki kunci untuk mengantarkan pesanan langsung ke toko. Jadi, meski toko dikunci rapat semua wholesaler dapat membuka semua toko buku di seluruh Jerman. Luar biasa bukan?!

Beberapa catatan lain yang juga penting adalah meskipun pasar buku dilihat dari skala dan sistemnya berbeda, memasarkan buku ternyata sama susahnya. Selain itu cetakan pertama sebanyak 3000 eksemplar sepertinya cukup normal di banyak negara, bahkan di beberapa negara Eropa seperti Jerman, Inggris dan Belanda atau di pasar buku sebesar Amerika yang menerbitkan 300 ribu judul buku per tahun. Pada beberapa buku yang memiliki muatan sastra tinggi dan butuh waktu untuk membacanya, cetakan pertama berkisar antara 2000-2500 eksemplar adalah hal yang cukup wajar. Jadi, sama sekali bukan kutukan jika banyak penerbit di Indonesia masih mencetak dengan jumlah yang sama sampai saat ini.

Dengan pengalaman luar biasa selama sekolah perbukuan di Frankfurt ini saya yakin masih ada banyak ruang di Indonesia untuk menumbuhkan pasar buku. Saat ini volume pasar kita mungkin belum mencapai kisaran 1 miliar dolar, namun pasar buku kita masih sangat muda berbanding pasar buku di negara maju yang sudah mencapai level puncak dan cenderung turun. Kita masih perlu memperbaiki sistem distribusi, menambah jumlah toko buku sampai ke banyak kabupaten di luar pulau Jawa, dan melahirkan lebih banyak lagi penulis bermutu. Semoga.

@salmanfaridi