“Bermain melahirkan kesehatan fisik dan mental. Orang yang tidak cukup bermain (akan) tumbuh dewasa sebagai pembunuh serial ….” ~Michelle Joni Lapidos, perancang Preschool Mastermind di Brooklyn

Dalam 30 tahun terakhir, tidak pernah ada fenomena yang begitu mengguncang dalam episode penerbitan buku di belahan bumi bagian Barat kecuali buku mewarnai untuk orang dewasa. Tren yang dimulai dari seorang ilustrator asal Skotlandia, Johanna Basford, melalui buku Secret Garden terbit pertama kali tahun 2013 dengan oplah 16 ribu eksemplar mengerek popularitas buku mewarnai menjadi fenomenal. Karya Basford sejauh ini sudah terjual 6 juta kopi, dengan capaian tambahan 4 juta kopi hanya dalam 5 bulan saja. Di pasar internasional yang menikmati gula-gula omset buku mewarnai ini tidak saja Johanna Basford dan penerbitnya, Laurence King, penerbit asal Prancis Hachette Pratique, menerbitkan buku Art-thérapie: 100 coloriages anti-stress (2012), telah terjual lebih dari 3,5 juta kopi di seluruh dunia. Sukses ini juga diikuti oleh penerbit Dover yang menerbitkan tema mewarnai serupa berjudul Creative Haven (2012) dan sudah terjual empat ratus ribu kopi (Raphel, 2015).

Apakah tren serupa menjalari perilaku orang-orang dewasa di Asia? Sejauh ini belum ada laporan kesuksesan penjualan buku mewarnai untuk orang dewasa di Asia, khususnya Indonesia. Memang sudah ada beberapa judul buku mewarnai yang terbit akhir semester pertama 2015 dan mulai meramaikan display toko buku,akan tetapi tidak pernah dilaporkan mencapai hit yang sama dengan pasar buku di Eropa atau Amerika. Mungkin saja ada beda fitur antara orang dewasa di Asia dan di Barat. Salah satunya adalah kepuasan bermain. Adrienne Raphel, penulis kolom The New Yorker, mengutip hasil penelitian Stuart Brown sejak 1966 tentang para pembunuh beruntun menemukan data menarik bahwa sebanyak 90% dari para kriminal itu tidak banyak memiliki waktu bermain ketika kecil. Konon data ini segera saja menjadi marketing gimmick untuk memuluskan banyak buku bermain, kemah bermain, dan permainan lainnya termasuk program Prasekolah untuk orang dewasa agar terhindar menjadi calon pembunuh (padahal kenyataannya data yang sama bahwa banyak pelaku kejahatan serial mengalami berbagai bentuk perlakuan abusive tidak dikutip secara cukup seimbang, atau disampingkan).

Tengok data menarik yang ditemukan dalam laman pencarian buku bestseller Amazon untuk kategori “adult coloring books” yang menampilkan sejumlah kata kunci yang berhubungan dengan peredam ketegangan, memberikan efek gembira bahkan relaksasi dan meditasi. Sejumlah buku mewarnai tidak saja dipasarkan sebagai sesuatu yang menyenangkan, bahkan seperti diresepkan untuk melepaskan ketegangan tertentu yang diidap orang dewasa. Buku mewarnai tidak saja menjelma menjadi obat, bahkan memiliki efek terapeutik. Simak beberapa contoh buku berikut Color Me Calm: 100 Coloring Templates for Meditation and Relaxation (A Zen Coloring Book) terbit tahun 2014, Adult Coloring Books: A Coloring Book for Adults Featuring Stress Relieving Patterns and Intricate Doodles (2015), dan Adult Coloring Book: Stress Relieving Animal Designs (2015).

Frank Furedi (2015), sosiolog, melihat fenomena buku mewarnai untuk orang dewasa ini sebagai “Infantilization of the West,”. Sebuah proses yang membuat orang dewasa seolah menjadi anak-anak kembali. Kecenderungan “menganak-anakan” diri ini begitu populer sehingga ada cukup kekhawatiran bahwa tren ini dapat berkembang menjadi sebuah franchise baru kesehatan mental yang lazim disebut sebagai mindfulness. Sebuah kualitas kesadaran diri yang merangkum kualitas kesadaran terjaga dan penuh perhatian. Penulis seperti Eckhart Tolle, yang laris manis dengan bukunya The Power of Now (2001), dapat digolongkan sebagai salah satu orang penting dalam mengamati kesadaran diri yang berfokus pada kondisi di sini dan saat ini. Saat masa depan belum terjadi, dan masa silam telah lama kita tinggalkan, berfokus pada momen (pengalaman) di sini-saat ini (waktu) adalah satu-satunya cara untuk tetap hadir layaknya sebuah kontinuum yang tak terputus. Furedi lalu menambahkan, “ke dalam situasi ketika mindfulness diarak sebagai obat manjur bagi problem eksistensial kemanusiaan, tidaklah mengejutkan jika buku mewarnai dijual sebagai obat antistress.” Berbahagialah orang-orang dewasa—istilah kekiniannya adalah anak-anak lama—yang dulu tumbuh dengan sejumlah permainan tradisional seperti galah asin, gobak sodor, gambar umbul dan banyak lagi lainnya. Mungkin ini sebabnya kita tidak perlu buku mewarnai untuk tetap kreatif dan mempertahankan kualitas kesadaran diri.

@salmanfaridi

*artikel ini tayang di Harian Bernas, 28 September 2015