Indo goes to FBF 2015

Kabar gembira bahwa Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 14-18 Oktober 2015 mendatang bukan lagi kabar burung. Prestasi yang dicapai Indonesia ini merupakan buah dari gemilangnya tulisan-tulisan karya putra-putri bangsa. Tak mudah bagi seorang penulis atau badan penerbitan meloloskan karyanya untuk dipamerkan di FBF.

Seleksi karya dimulai sejak tahun 2014 lalu. Pada tahap awal, Komite Nasional Indonesia meminta para penerbit dan penulis mengirim karya mereka yang dianggap layak dan patut diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Hingga awal tahun 2015, para penulis dan penerbit terus bersaing meloloskan karya masing-masing.

Karya-karya yang terkumpul lantas dikelompokkan sesuai dengan kategori, kemudian dinilai oleh tim independen yang ahli dalam bidang tersebut. Tak hanya dinilai dari kualitas isi, untuk dapat lolos dari seleksi ini, tim penilai menetapkan sejumlah syarat dan ketentuan.  Syarat utamanya, karya penulis telah atau sedang diterjemahkan dalam bahasa asing. Selain itu, karya yang dipilih harus mewakili keragaman tema, jenis karya dan kategori karya. Di samping itu, masih ada sejumlah pokok yang menjadi bahan pertimbangan tim penliai, di antaranya:

1. Karya diciptakan oleh warga negara Indonesia dan hak ciptanya berada di tangan pengarang atau penerbit Indonesia;

2. Karya merupakan karya asli, bukan terjemahan ataupun saduran;

3. Karya tidak mengandung hasutan dan kebencian suku, agama, ras, dan antar golongan;

4. Karya tidak dalam status persengketaan hak cipta dan hak penerbitan;

5. Karya sudah terbit dalam bentuk buku (cetak atau digital) atau pernah terbit di media (koran, jurnal, dsb.);

6. Diutamakan adalah karya yang mencerminkan keindonesiaan.

Dari proses seleksi yang panjang dan ketat tadi, terkumpul 2000 judul buku yang dinilai, dan Komite Nasional pada akhirnya meloloskan 200 judul buku untuk dibawa ke FBF 2015. Tak mau ketinggalan, sejumlah nama penulis Bentang Pustaka lolos ke FBF 2015 mendatang, di antaranya, Abidah El Khalieqy, Andrea Hirata, Dewi Lestari, Eka Kurniawan, Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono (kategori buku sastra dan fiksi), dan Wahyu Aditya serta Trinity (buku non fiksi).

 @fitriafarisa