Lebih dari setahun saya menggunakan aplikasi menulis dan membaca besutan sebuah perusahaan rintisan asal Kanada, Wattpad. Startup yang konon mulai disandingkan dengan Youtube sebagai satu-satunya konten teks terbesar saat ini, dengan jumlah pengguna lebih dari 40 juta dan satu juta unggahan teks setiap harinya, menjanjikan akses tak terbatas pada jutaan konten yang dapat dibaca secara gratis. Terlebih bagi penulis yang sedang menabung tulisan secara digital, aplikasi Wattpad memungkinkan penulis mendapatkan feedback dan bahkan membangun basis besar pembaca sebelum bukunya terbit di jalur cetak.

Bagi banyak penerbit tradisional, Wattpad dapat menjadi platform akuisisi naskah yang luar biasa. Sebab, naskah yang bagus umumnya dengan mudah dilihat dari jumlah pembaca, komentar terhadap naskah, termasuk di dalamnya kreativitas penulis untuk membuat pembaca terlibat seperti mensyaratkan sejumlah feedback atas satu atau beberapa bab yang sudah selesai ditulis, sebelum melanjutkan bab berikutnya. Fitur berbagi secara sosial (media) memungkinkan naskah penulis dapat ditemukan oleh banyak pembaca lainnya secara viral. Artinya, secara tidak langsung menambah peluang pertumbuhan basis pembaca. Tidakkah ini meringkas sejumlah besar pekerjaan penerbit?

Yang mengejutkan banyak penulis dengan jutaan pembaca sering kali anonim. Mereka ini adalah para penulis yang kemungkinan belum pernah menerbitkan buku, mungkin juga tidak pernah menulis di media lainnya kecuali di Wattpad, secara umur relatif muda, dan memiliki exposure yang tinggi dengan gadget. Kemungkinan besar pula, karakter pembacanya berada dalam irisan yang sama. Seandainya industri buku di Indonesia punya alat ukur jumlah pembaca belia saat ini, bukan tidak mungkin banyak aktivitas membaca sudah berpindah ke telepon pintar (phone reading). Dan, jika ini yang terjadi, kemungkinan berikutnya bisa menjelaskan mengapa volume buku cetak kategori remaja yang terjual di Indonesia pelan tapi pasti terus tergerus. Beberapa perkecualian mungkin terjadi pada buku bestseller terjemahan yang difilmkan ke layar lebar, dan atau buku-buku dari penulis yang sudah mapan secara nasional.

Fenomena membaca lewat telepon pintar ini, juga sedang terjadi di pasar Amerika dan benua Eropa, melahirkan sejumlah penulis yang juga besar dan populer di dalam platform digital. Bahkan, salah satu judul yang segera terbit dalam waktu dekat ini di Bentang Pustaka, Tenaga Kerja Istimewa, ditulis dan diselesaikan secara spartan melalui Wattpad. Novel yang ditulis oleh Naiqueen, nama pena dari Alya Zultanika, berkisah tentang seorang buruh migran TKI yang kemudian mendapat simpati dari salah seorang pangeran Saudi, bahkan terlibat dalam cinta yang rumit tapi bikin nagih untuk terus mengikuti kelanjutannya. Novel yang menghabiskan waktu lebih dari setahun sejak pertama kali ditulis ini  telah dibaca lebih dari 1 juta kali. Capaian ini cukup mustahil diraih penulis baru dalam kategori cetak. Yang menarik, ada lebih banyak penulis seperti Naiqueen yang lepas dari radar penerbit dan pembaca konvensional dan aktif berkarya secara digital.

Dalam banyak kesempatan jika saya ditanya tentang peluang buku digital, jawaban saya selalu sama; buku digital akan terus tumbuh dan pada satu titik akan mencapai skala industri yang menjanjikan bagi semua stakeholder penerbitan. Namun, kreativitas harus terus dijaga agar cukup stamina menjaga tulang punggung industri buku yang masih bergantung pada buku cetak–sama halnya Wattpad yang sejauh ini belum memonetisasi kontennya dan dengan demikian belum menghasilkan revenue yang signifikan. Yang jelas tantangan industri buku ke depan akan lebih dinamis dan memicu adrenalin. Kabar buruk bagi yang terlambat berubah.

@salmanfaridi