Entah mengapa saat menulis artikel ini saya teringat sebuah buku kecil beberapa tahun silam tentang sejumlah eksil yang terlunta-lunta di negara orang dan harus berjibaku bertahan hidup dengan mendirikan restoran. Buku itu, yang ditulis oleh Sobron Aidit dan Budi Kurniawan, berjudul Melawan Dengan Restoran adalah rekaman  menarik tentang orang-orang Indonesia yang dianggap oleh pemerintah orde baru memiliki hubungan dengan peristiwa 30 September pada tahun 1965. Belakangan, buku ini dimasukkan sebagai salah satu rujukan Leila S. Chudori ketika menulis novel Pulang.

Dua bulan terakhir ini saya kerap bertemu dengan kawan-kawan penerbit indie dari Malaysia. Misi utama mereka tak lain membawa karya-karya berbahasa Indonesia untuk dijual di pasar buku di Malaysia tanpa melalui saduran atau terjemahan. Dengan alasan yang cukup dimengerti, para penerbit indie ini menyatakan bahwa ada cukup banyak pembaca di Malaysia yang lebih nyaman membaca langsung dari bahasa Indonesia, daripada diterjemahkan dulu ke dalam bahasa melayu. Kendala utamanya cuma satu, buku berbahasa indonesia, hanya dapat masuk melalui jalan impor dan karenanya harga jualnya menjadi terlalu tinggi. Dalam rupiah buku-buku berbahasa indonesia melalui importir dijual tak kurang dari Rp 150.000,- sementara harga jual buku di negeri jiran tersebut pada umumnya sekitar Rp 90.000,-. Jika peminatnya cukup banyak dan dapat dijual dengan harga keekonomian yang sama dengan buku tempatan, lokal, maka peluang terbuka lebar. Inilah kesempatan bisnis yang dibidik oleh para pelaku buku Indie yang umumnya masih muda, anti kemapanan dan cenderung melawan.

Saya mengelompokkan kawan-kawan penerbit independen yang datang kemudian sebagai gelombang kedua setelah sebelumnya didominasi oleh penerbit-penerbit mapan. Pada periode pertama, banyak aktivis perbukuan Malaysia berburu naskah novel untuk diterjemahkan dan dijual dalam bahasa Melayu. Rupanya bukan cuma Ariel Peter Pan dan Sheila on Seven yang pernah merajai tangga nada di banyak kaum muda Malaysia, novel-novel karya penulis Indonesia pun digemari pula, salah satunya Laskar Pelangi. Seorang kawan yang tinggal di Kuala Lumpur yang baru saja bertandang ke Jogja menyebutkan betapa ibunya sangat suka novel yang ditulis oleh Andrea Hirata.

Namun, lanskap penerbitan di Malaysia berubah cepat dalam dua tahun terakhir. Lahirnya penerbit anti-mainstream, didominasi oleh banyak orang muda dan progresif, mendorong terbitnya buku-buku baru dengan jenis bacaan yang tidak biasa. Salah satu penerbit yang sempat saya kunjungi, penerbit Lejen, secara bersemangat menjelaskan betapa berbedanya tema fiksi yang dibaca oleh banyak pembaca muda di sana. Banyak novel (mainstream) umumnya hanya cocok bagi orang-orang yang sudah berkahwin sahaja (menikah). Sementara, novel-novel yang ditulis bagi para remaja sampai mahasiswa umumnya tidak ada atau sangat sedikit. Ini menjelaskan mengapa novel BABI yang diterbitkan Lejen pernah memuncaki Best-Seller. Sukses meramu tema-tema unik dan tidak biasa ini akhirnya mendorong penerbit untuk mencetak lebih banyak lagi naskah-naskah alternatif, termasuk mendorong lahirnya banyak entrepreneur baru yang mencoba mencicipi bisnis buku, termasuk salah satunya Dubook.

Menjelaskan penerbit Dubook seperti memutar rekaman pada masa-masa tumbuh suburnya penerbit indie di Jogjakarta yang bergerilya dari gang ke gang, dari satu rumah kost mahasiswa ke kost-an lainnya. Umumnya menggerakkan teman sendiri untuk menerjemahkan, menyunting, dan mendesain kover. Hak cipta untuk satu alasan kemanusiaan biasanya diabaikan, toh lebih penting menyuguhkan bacaan bermutu dalam kadar segera daripada tak pernah terbit karena terbelit urusan hak cipta. Populer waktu itu dengan nama copyleft alih-alih copyright. Pada periode 1990-an menjelang runtuhnya rezim Soeharto, perlawanan melalui buku ini menemukan momentumnya. Karya Babon filsafat dan pemikir kiri dirayakan. Sementara itu buku-buku Pramoedya bergerak di bawah tanah, dijual secara terbatas melalui jalur-jalur komunitas untuk menghindari tangkapan petugas. Maka begitu pulalah yang terjadi dengan lanskap penerbitan di Malaysia yang dewasa ini semakin hiruk pikuk dijejali oleh buku-buku yang berisi protes dan kritik terhadap segala sumber kemapanan. Tidak hanya pihak kerajaan (pemerintah) bahkan ulama-ulama pun dikritik habis-habisan. Salah satunya melalui buku Orang Ngomong Anjing Gonggong; orang bodoh dilarang baca, yang ditulis sendiri oleh salah satu pendiri Dubook, Mutalib Uthman. Dalam buku ini pembaca akan menemukan banyak hal lucu satir bahkan sarkas yang ditunjukkan penulis terhadap situasi sosial-politik Malaysia.  Narasi semacam “anda tidaklah lebih berislam ketika mengucap Babi dengan Khinjir dan buka puasa dengan iftar,” adalah kritik pedas yang pas bagi sesiapa yang merasa kadar keislamannya bertambah hanya dengan mengubahnya ke dalam bahasa Arab misalnya (bukankah di Indonesia pun demikian?).

Pada 29 Agustus 2015 puluhan ribu orang memadati jalanan di beberapa ruas kota di Kuala Lumpur. Berkaos kuning dan meneriakkan kampanye Bersih 4.0, gelombang protes ini meminta perdana menteri Najib Razak turun dari kerajaan karena diduga mengantongi uang sebesar 700 juta dolar ke dalam rekening pribadinya. Akankah buku indie kembali membidani lahirnya reformasi?

@salmanfaridi