Ilmuwan dan Penyair dalam Satu Raga

“Bisakah engkau berkabar Pada sebuah tiada//Bisakah engkau bercinta//Pada sebuah alpa”-Mochtar Pabottingi, 2013

Selarik sajak di atas adalah karya seorang penyair dan ilmuwan politik kenamaan Indonesia, Mochtar Pabottingi. Laki-laki yang telah memasuki usia pensiun ini adalah salah satu tokoh yang patut dikagumi atas prestasinya dan dedikasinya sebagai salah satu cendekia Indonesia. Untuk itulah, Mochtar Pabottingi mendapat penghargaan “Cendekiawan Indonesia” dari Kompas.

Mochtar PabottingiSebagai seorang ilmuwan politik, Mochtar Pabottingi kerap kali melontarkan komentar yang kritis akan perkembangan politik Indonesia. Akan tetapi ia tidak hanya berhenti pada kritik semata. Mochtar Pabottingi juga selalu menyatakan adanya harapan bagi bangsa Indonesia untuk menjadi lebih baik di masa depan. Cara pandangnya yang optimis ini menjadi angin segar di antara berbagai kritik yang memberondong Indonesia tanpa ampun dari berbagai pihak. Seperti pada suatu kesempatan, Mochtar Pabottingi menenangkan bangsa Indonesia dengan menyatakan bahwa Indonesia tidak akan pecah karena perbedaan, karena Indonesia adalah bangsa yang sangat berpengalaman dalam menangani perbedaan.

Sebagai penyair, Mochtar Pabottingi pun cukup produktif dalam menghasilkan karya-karya yang bermutu. Pada tahun 2003 silam, Ia telah menerbitkan buku kumpulan puisinya “Dalam Rimba Bayang-Bayang” yang berisi 29 puisi karyanya. Selain itu, puisi-puisinya juga telah beberapa kali masuk kedalam buku antologi puisi baik didalam maupun diluar negeri.

Kini, Mochtar Pabottingi kembali mengeluarkan sebuah opus, sebuah karya, berupa kumpulan 26 puisinya yang berjudul “Konsierto di Kyoto”

Talitha Fredlina Azalia