Saat seorang guru miskin berpenghasilan 12 dolar sebulan memulai impian membangun bisnis internet tak ada satu pun yang percaya. Nasibnya berkali-kali apes. Beberapa di antaranya; dari total 10 kali mendaftar di Harvard, dia ditolak untuk kesepuluh kalinya. Begitu pula saat gerai ayam goreng paling populer asal Kentucky kali pertama buka di negeri Tirai Bambu dan membuka lowongan kerja, dari seluruh pendaftar yang berjumlah 25 orang, Jack adalah satu-satunya orang yang tidak diterima. Nasib baik kemudian mengantarkannya menjadi seorang guru bahasa Inggris, namun keberuntungan terbesarnya sedang menunggu di tikungan.

Pria yang lahir di provinsi Zhejiang, Hangzhou ini memiliki rekam jejak istimewa. Keingintahuannya pada bahasa inggris dan kemauannya untuk menguasai bahasa asing nyaris tak terbendung. Selama 9 tahun ia bersepeda dari rumahnya ke hotel terdekat untuk bertemu dan mengajak bicara orang-orang asing. Sebagai gantinya, Jack akan menemani tamu-tamu itu berjalan-jalan dan mengantar mereka ke tempat-tempat wisata secara gratis. Konon nama depannya, Jack, diberikan oleh salah seorang tamu yang kemudian menjadi sahabat penanya karena kesulitan memanggil nama aslinya dalam bahasa China.

Keberuntungannya tidak berlangsung sekejap mata seperti kisah Jin Lampu dalam cerita 1001 malam yang dapat mengabulkan 3 permintaan dengan segera, kisah Jack sebagaimana entrepreneur lainnya juga berliku. Namun yang menarik adalah bagaimana sikap positifnya melihat peluang. Dalam salah satu wawancara di sebuah televisi di Amerika, Jack mengatakan bahwa banyak peluang hadir dari keluhan. Inilah visi di balik Ali Baba yang ia hadirkan bagi banyak produsen di China kala itu yang tidak bisa memasarkan produknya secara lebih luas. “Pebisnis kaya dapat dengan mudah bepergian ke berbagai pameran dan mengenalkan produknya, namun bagi banyak pedagang yang pas-pasan, membiayai tiket perjalanan adalah sesuatu yang mahal, belum lagi kendala bahasa,” demikian Jack mengingat masa ketika internet yang dia lihat pada 1994 di Amerika adalah kotak ajaib yang akan mewujudkan impian banyak orang di china, termasuk dirinya. Impian banyak orang inilah yang menjadi bahan bakar Jack tetap menekuni Ali Baba, bahkan ketika perusahaannya tak menghasilkan revenue satu dolarpun pada tahun operasi ketiga.

Peduli pada nilai kolektif adalah sebuah kredo yang diyakini Jack tentang kemuliaan menolong banyak orang. Nilai dan kepedulian pada publik ini digolongkan ke dalam masyarakat kapitalis baru oleh Danah Johar dan Ian Marshall sebagai modal spiritual. Buku  berjudul Spiritual Capital yang dilahirkan dari wawancara dengan banyak pemimpin bisnis ini memetakan sebuah fakta menarik tentang banyaknya perusahaan yang berhasil karena didorong untuk merengkuh kemanfaatan sebesar-besarnya alih-alih keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan, dalam banyak catatan, mengorientasikan bisnis untuk kemaslahatan publik bahkan membuat bisnis melesat cepat, doing good is actually good for business.

Setelah sukses melakukan IPO pada September 2014 di Wallstreet, Jack Ma berhasil memecahkan rekor IPO terbesar dengan total dana terkumpul sebesar 25 Miliar dolar. Nilai yang luar biasa besar ini menjadikan Jack orang paling kaya di China saat ini, sekaligus seorang filantropis yang aktif.

Saya teringat masa kecil saya di Bandung ada sebuah rumah makan Padang yang selalu berbagi makanan gratis sehari menjelang Ramadhan. Kegiatan ini terus dilakukan sampai sekarang dan warung Padang itu tetap kokoh bertahan bahkan semakin ramai dari tahun ke tahun. Ah, teringat pada suatu waktu Tuhan pun membisikkan hal yang sama, mereka yang memikirkan dan menjaga kepentingan banyak orang Tuhan pun akan ikut menjaga kepentingannya.

@salmanfaridi