Jika disepakati bersama insya Allah dalam beberapa hari mendatang semua muslim di seluruh dunia akan merayakan kemenangan setelah sebulan lamanya berpuasa. Datangnya hari kemenangan ini biasanya diawali oleh penentuan hilal untuk memastikan datangnya bulan baru, atau jika dihitung berdasarkan kalender ilmu falak, waktu datangnya bulan baru dapat dipastikan berdasarkan perhitungan matematis, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap peneropongan secara fisik. Cara manapun yang dipilih baik melihat hilal langsung dengan mata telanjang, maupun berdasarkan pendekatan sains keduanya sahih. Yang keliru adalah yang lebaran sekadar berbeda saja dari galibnya umat islam lainnya, seperti lebaran 4 hari lebih awal atau jika tidak sepakat juga secara berkelakar sering disebut lebaran diundur sebulan lagi.

Drama penentuan hilal ini, karena efeknya yang besar menentukan nasib berbuka kaum muslimin untuk 11 bulan berikutnya akhirnya sering juga dikutip untuk penentuan hari besar lainnya. Bagi yang merayakan Valentine misalnya, ramai disebut datangnya tanggal 14 Februari yang romantis itu juga ditentukan berdasarkan sidang itsbat. Ini tentu tidak serius, akan tetapi guyonan itu lebih untuk menunjukkan betapa kritisnya umat terhadap persoalan tahunan yang terjadi berlarut-larut. Bayangkan nanar mata anak-anak yang setelah yakin lebaran besok hari lalu diundur sehari berikutnya. Bagi yang berpikir terbuka beda sehari biasa saja. Silakan memilih hari yang dianggap paling meyakinkan. Yang oportunistik biasanya memulai puasa lebih akhir tapi berlebaran lebih awal.

Di daerah saya di Jawa Barat, lebaran yang sering identik dengan kupat secara semiotika memiliki arti yang menarik. Berlebaran dengan kupat memiliki arti meninggalkan bulan suci dengan berhenti “mengupat”. Kata mengupat artinya menggunjingkan orang lain, dan kalau kita sesuaikan dengan konteks sekarang, mengupat tidak hanya bergosip tentang orang lain, akan tetapi lebih parahnya, mengupat telah berubah menjadi memfitnah orang lain. Celakanya, fitnah ini bahkan dilakukan secara bersemangat untuk menempur muslim lainnya yang tidak memiliki cara pandang yang sama seolah surga sudah di tangan. Padahal di dalam hadis nabi yang mulia hanya orang gila, anak-anak dan atau orang yang sedang tidak siuman yang akan bebas perhitungan dan dengan demikian menambah kans masuk surga. Jadi, jika Anda merasa orang lain keliru melulu, cuma Anda saja yang mutlak benar, Anda mungkin termasuk anak-anak, belum siuman, atau orang gila.

Selain berhenti mengupat momentum kemenangan lebaran juga diperluas dengan menyambungkan silaturahim. Inilah kemenangan sebenarnya, ketika kasih sayang meraja mengalahkan segala daya fitnah dan nafsu jahat menyengsarakan sesama saudara. Doktrin awal islam sesungguhnya kita semua bersaudara atas dasar kemanusiaan. Tengok misalnya QS Al-Baqarah [2: 83-84] tentang perjanjian suci orang-orang Yahudi yang memuliakan Tuhan pada tempat pertama dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan dalam banyak kategori orangtua, kerabat, anak yatim dan orang miskin pada tempat kedua, yang secara elegan ditempatkan di atas kewajiban shalat dan zakat. Kalau bukan karena cinta dan kasih sayang begitu besar letaknya di hadapan Allah, mustahil nilai ini ditempatkan lebih awal di atas hukum taklif seperti shalat dan zakat.

Dalam sebuah hadis qudsi anjuran tentang kasih sayang ini disampaikan sendiri oleh Allah secara indah, “orang-orang yang saling menyayangi akan mendapatkan kasih sayang dari Sang Mahapenyayang (Ar-Rahman). Dan siapa pun yang menyayangi makhluknya di dunia, ia akan mendapatkan kasih sayang dari (Dia) yang ada di langit.” Tidakkah anjuran untuk memperluas silaturahim ini merupakan tema pokok lebaran yang hakiki? Ketika semua merayakan kemenangan, hakikatnya kita menuntaskan ajaran ilahiah dengan merangkul kemanusiaan kita. Sebab, semua tindakan menyakiti secara prinsip sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri. Selamat berlebaran dan bersilaturahim. Mari saling memaafkan.

@salmanfaridi