Oleh: Candra Malik*

Tidak ada yang dilahirkan sebagai pembenci. Kasih Sayang Ilahi hidup dalam setiap diri. Dan, Kasih Sayang Allah itu Maha Dahsyat. Setiap yang mencintai-Nya merasa dialah yang terdekat dan Rindunya yang paling hebat. Siapa pun tatkala mendekati Kebenaran dan Kesabaran, ia lantas menyadari kesalahan-kesalahannya. Juga merasa mendapat kekuatan baru untuk tidak gegabah, buru-buru, cemas, khawatir, gelisah, dan emosional lagi.

Namun, Lingkaran Keagungan Allah juga membiaskan Cahaya Kenisbian yang memusnahkan segala sesuatu selain Yang Maha Kekal. Segalanya sirna selain Allah. Cara lenyapnya ini yang tidak disangka-sangka. Misal, ketika seseorang berada di radius Sumber Kebenaran, ia tidak hanya menyadari kesalahan-kesalahannya. Pada sisi lain dari dirinya, orang ini juga kemudian merasa lebih beruntung dari orang lain dan mengasihani mereka.

Dari rasa kasihan itu, muncul hasrat menolong orang lain, mengentaskan mereka dari keburukan. Jika tidak hati-hati, ia akan dihinggapi perasaan lebih baik dan lebih benar dibanding orang lain. Pada akhirnya, hati merasa dekat dengan Tuhan, tapi ternyata diri sedang Allah jauhkan dariNya. Na’udzu billah. Ada celah sangat tipis di segumpal darah yang mudah dibolak-balikkan kenyataan dan keadaan. Hati memang tangguh, tapi sekaligus teramat rapuh.

Celah di hati itu mudah disisipi rasa sombong yang sangat lembut. Siapa pun sulit menemukan rasa sombong yang telah diam-diam merayapi hati dan lambat-laut melekat di sana. Padahal, satu noktah kesombongan saja mudah merusak kebaikan-kebaikan lain yang hidup di sanubari. Tidak hanya merasa benar; bahkan lebih benar di antara yang lain, seseorang yang merasa telah mendapat hidayah dari Allah pun lalu merasa dirinya lebih sabar dan bijak.

Sabar menjalani hidupnya yang baru; hidupnya yang sekarang. Merasa bisa menyaring pengalaman hidupnya yang telah lampau sehingga mendapatkan saripati hikmah. Bisa ditebak, ia pun merasa menjadi lebih mumpuni untuk menasihati orang lain. Padahal, bisa jadi, tanpa disadari, ia kini memasuki babak baru dari peperangan melawan diri sendiri dalam wujud ‘musuh dalam selimut’ yang lebih lihai dan ulet, yang lebih sulit diendus dan diidentifikasi.

Tidak ada yang dilahirkan sebagai pembenci, memang. Tapi, jika dengan kebencian gagal, maka setan dan nafsu bisa bersekutu untuk meruntuhkan keimanan manusia lewat cara lain yang lebih lembut lagi. Dan, kesombongan bisa hadir dengan amat sangat lembut — sampai tak lagi terasa. Ia yang telah menunaikan kewajiban dan sunnah ibadah bisa terjerumus di tubir antara syukur dan kufur gara-gara mengutuki mereka yang tidak beribadah, misalnya.

Ia yang merasa telah insyaf, jika tidak pandai-pandai menjaga lisannya, justru bisa terkena penyakit hati yang baru ketika banyak bicara dan mengungkit keburukannya sendiri pada masa silam; kemudian tanpa disadari ia menyindir teman-temannya yang masih khilaf. Ia yang kini merasa hidupnya lebih baik dari sebelumnya mungkin saja justru mengambil jarak dari masyarakat, tak mau tersentuh keburukan lagi, memilih berlindung di balik dalil naqli dan aqli.

Merasa benar dan merasa baik adalah bias dari kesadaran baru sejak merasa salah dan merasa buruk. Rasa tinggi hati gampang dialami siapa pun yang menyentuh kebenaran dan kebaikan. Oleh karena itulah, selayaknya kita tak berhenti untuk senantiasa berhati-hati. Mewasiatkan kebenaran dan kesabaran bukan berarti bebas menuduh orang lain salah dan sampah. Pun berlomba-lomba dalam kebaikan tak berarti boleh menilai orang lain buruk dan terkutuk.

Jika agama adalah kebenaran, maka berhentilah saling menyalahkan. Jika agama adalah kebaikan, maka berhenti pulalah mengungkit keburukan. Dan jika agama adalah kelembutan, berhenti berbuat kekerasan adalah keharusan. Agama itu mudah dan selayaknya memudahkan. Ajaran agama diturunkan Allah untuk manusia, dan oleh karena itu niscaya manusiawi dan tidak akan bertentangan dengan kemanusiaan. Agama itu memanusiakan manusia.

Ia yang merasa benar dan baik justru terpental jauh dari Kebenaran dan Kebaikan itu sendiri. Oleh karena itu, siapa pun yang mendapat kesadaran betapa dirinya bersalah, disarankan padanya untuk menyesali diri dan bertobat. Siapa pun yang memeroleh kesadaran betapa dirinya buruk, ia diharapkan mawasdiri. Cermin adalah dinding terbaik untuk berhenti menilai orang lain dan mulai menilai diri sendiri. Kasihani dan nasihatilah diri sendiri.

Sementara itu, Cahaya Kesucian Allah membiaskan pula kenisbian yang menafikkan siapa saja yang mendekat padaNya. Berdekat-dekatan dengan Yang Maha Suci, siapa pun seketika akan merasa dirinya najis dan hina. Tak akan ada yang merasa suci. Cahaya Kemuliaan Allah membiaskan kefanaan yang memusnahkan siapa saja yang merangsek menujuNya. Sehingga tak ada perasaan selain fakir dan dhaif yang dirasakan oleh setiap hamba.

Perasaan najis dan hina serta fakir dan dhaif yang muncul sewaktu mendekati Allah dalam KedudukanNya sebagai Subhanahu wa Ta’ala, adalah perasaan yang tak bisa dilawan, tak pula berdaya memunculkan perasaan sebaliknya. Ia yang merasa najis dan hina takkan bisa memandang orang lain lebih najis dan hina darinya. Ia yang merasa fakir dan dhaif takkan bisa menilai orang lain lebih fakir dan dhaif darinya. Rasa ini amat kuat melemahkan kesombongan.

Ia yang merasa najis dan hina serta fakir dan dhaif tidak akan berlomba-lomba menjadi suci dan tinggi serta kaya dan kuat. Sekali saja tercelup dalam rasa najis dan hina serta fakir dan dhaif di hadapan Allah, airmata terus-menerus berurai dan sujud takkan bisa selesai. Tutur kata melembut dan nanar mata meredup; tak lagi menghujam ketika mengucap, pun tak lagi menusuk ketika menatap. Ia akan menjadi rendah hati. Dan inilah benih terbaik akhlak mulia. []

Candra Malik, praktisi Tasawuf yang bergiat dalam kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan