Mendadak HajiBelakangan ini saya sering menerima promosi iklan sebuah hotel di kawasan Makkah yang memiliki fasilitas utama pemandangan dari kamar hotel tepat menuju Kabah. Saya tidak tahu mengapa twitter memilih saya untuk menampilkan iklan hotel ini. Namun, di antara iklan game online, fitur kamera selfie yang bisa membuat wajah 10 tahun lebih muda dan iklan tidak penting lainnya, penawaran menginap di hotel yang langsung menghadap Kabah cukup menarik. Bukan karena saya ingin mampir ke hotel itu tentunya, akan tetapi pada saat yang bersamaan muncul pula klip juru dakwah asal Amerika, Syekh Hamzah Yusuf yang sedang getol mengecam hadirnya bangunan besar berupa hotel sekaligus tempat tinggal sebuah Jam besar bersisi 4 yang dapat dilihat dari jarak 25 kilometer, sebagai tanda-tanda mendekatnya akhir zaman.

Bangunan besar yang dinamai Abraj Al-Bait ini didirikan setinggi 601 meter di atas puing-puing Benteng Ajyad, sebuah artefak peninggalan masa kekhalifahan Utsmani pada abad ke-18. Di antara megabuilding di dunia, Abraj Al-Bait hanya terpaut 3 posisi saja dari bangunan tertinggi lainnya yaitu Burj Al-Khalifa, Tokyo Sky Tree dan SbangHai Tower. Sebagai bangunan keempat tertinggi, menara ini dilengkapi dengan fasilitas ibadah yang dapat menampung 10.000 jamaah, pusat perbelanjaan sebanyak 5 lantai, ruang parkir yang bisa diisi seribuan kendaraan, dan secara total dapat dihuni oleh 100.000 orang. Di puncak menara, sebuah hotel bintang lima dioperasikan oleh Fairmont hotel bersiap menjamu jamaah haji yang jumlahnya mencapai jutaan setiap tahunnya.

Karena difungsikan sebagai hotel, Abraj Al-Bait ini memiliki nama lain yaitu Makkah Clock Royal Tower. Menariknya, kamar-kamar yang disediakan oleh Abraj Al-Bait ini bisa dicari juga lewat layanan pencari hotel semacam Agoda dan booking.com. Iseng saya coba cek berapa tarif menginap di hotel ini lewat layanan pencari kamar ternyata harganya “murah” juga mulai hampir 3 jutaan yang paling murah, dan jika berkenan tinggal di Presidensial suite Anda cukup mengeluarkan uang 13 juta rupiah saja. Dengan fasilitas luar biasa ini ibadah dijamin sangat nyaman dan menyenangkan, tidak perlu berdesakan, makanan terjamin, surga belanja masih di dalam bangunan yang sama, meskipun hasil akhirnya kesehatan dompet sepulang beribadah perlu dirawat cukup lama untuk sembuh sedia kala.

Kehadiran fasilitas penunjang ibadah yang lebih nyaman, lebih terjamin, dan banyak kelebihan lainnya memang meniscayakan satu hal; harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sekian banyak kelebihan itu tentulah tidak murah. Jika Anda berhaji dan menginap di menara royal tower ini hitungan paling murah dalam 30 hari misalnya harus rela merogoh kocek 90 juta. Itu baru menginap saja, belum tiket dan kebutuhan lainnya dengan catatan pengeluaran untuk satu orang saja. Jika anda berangkat berlima, tinggal dikalikan saja semua pengeluaran itu lima kalinya.

Melihat fenomena ini saya merasa tiba-tiba saja semua jenis ibadah yang dipandang sama di hadapan Allah apa pun statusnya, menjadi terbagi-bagi ke dalam kelas. Seperti kritik Marx yang memunculkan istilah komodifikasi, ketika sesuatu yang tidak memiliki nilai jual seperti ibadah, mendadak bisa diperjualbelikan. Anda yang kere dan pas-pasan antrelah secepat mungkin jika mau berhaji sebab bisa jadi berangkatnya 10 tahun kemudian. Inipun berangkat dan pulang dipastikan sesuai jadwal. Namun, kalau Anda punya dana berlebih ONH Plus menjamin Anda berangkat paling akhir dan pulang paling depan. Inilah komodifikasi ibadah.

Rasanya memang tidak nyaman ya. Ibadah kok pilih-pilih. Yang sregep bayar dan jumlahnya lebih banyak mendapatkan fasilitas lebih baik dibandingkan yang ngepas. Saya memang berniat suatu hari nanti pergi berhaji namun seperti dalam film Le Grand Voyage, saya berharap dapat menelusuri lewat jalur darat saja. Dari Indonesia menyeberang ke Malaysia lalu berjalan terus ke utara melewati Thailand dan seterusnya. Bukan perjalanan yang menyenangkan pastinya jika dibandingkan sekali naik pesawat dan turun di Jeddah. Namun, barangkali ada hal-hal sublim dalam ibadah yang tak tergantikan bahkan oleh fasilitas yang luar biasa mewah dan memanjakan. Teringat Nabi Muhammad Saw. yang sering kali tidur beralaskan kain kasur kasar dengan bertelekan pada kedua tangannya sebagai pengganti bantal. Jika nabi agung itu sempat menyaksikan kemewahan yang hadir di rumah tuhan sudah sedemikian rupa, mungkin tanda-tanda mendekatnya akhir masa ini memang sudah teramat dekat. Wallahu alam bishshawab.

@salmanfaridi