GelandanganTulisan saya kali ini sengaja mengutip seorang petani organik asal Thailand, Jon Jandai, yang telah mengabdikan 20 tahun dalam hidupnya merawat bumi dan hidup dari apa yang dihasilkan bumi. Pria sederhana asal Chiang Mai ini membuka pidatonya dalam TedX dengan provokatif: mengapa hidup menjadi lebih susah bahkan ketika kita sudah bekerja keras? Jon yang hidup dan besar di wilayah pertanian sempat menghabiskan hidupnya di kota besar Bangkok dan menuntut ilmu. Ironisnya, apa yang ia temui dalam semua keahlian yang diajarkan secara spesifik di fakultas-fakultas adalah ilmu pengetahuan yang merusak. Arsitektur mengubah bumi menjadi beton-beton raksasa sementara ilmu pertanian menebar racun dalam setiap jengkal tanah.

Dalam upayanya untuk bahagia Jon melihat bahwa satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah menghabiskan lebih banyak waktu secara normal. Ia mengingat dengan jelas bahwa kehidupan desanya dulu hanya mengenal siklus 2 bulan bekerja dalam setahun. Satu bulan pertama untuk menanam dan bulan kedua datang pada masa panen. Jon dan keluarganya memiliki 10 bulan di antara masa tanam dan panen untuk menikmati hidup. Apa saja yang dia lakukan?

Bulan-bulan tanpa pekerjaan bukanlah bulan yang sia-sia. keluarga saling berkunjung, kerabat datang bertamu, dan sesama tetangga saling bertukar cerita. Selain itu ada lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan mendorong setiap orang untuk memahami dirinya sendiri. Inilah yang ditemukan Jon saat mendapati dirinya dalam siklus modern Bangkok yang semakin bising dan tak lagi memberikan cukup waktu kepada setiap orang untuk melakukan perenungan. Untuk menghadiahi dirinya, Jon membangun rumah selama 3 bulan tanpa utang, sementara temannya di Bangkok memiliki rumah namun dengan tambahan cicilan 30 tahun yang harus dibayar dari gajinya.  Hidup ini mudah, (tapi) mengapa Anda membuatnya sulit?

Cerita Jon ini mengingatkan bahwa terkadang ada banyak hal yang membuat banyak orang menderita di antaranya karena kita didera oleh begitu banyak keinginan. Tengoklah apa yang terjadi dalam pertarungan telepon pintar, model baru dan fitur baru serba canggih tak akan pernah berhenti ber-revolusi. Hal yang sama terjadi dalam fashion, industri hiburan dan komodifikasi lainnya. tangga-tangga sosial diciptakan dengan sejumlah privilege agar kita semua berlomba berlari menapakinya. Sayangnya, semua perlombaan itu tidak pernah ada garis finishnya. Sebab, ketika Anda mengikuti sesuatu, Anda tidak akan pernah berada di depan.

Dalam istilah yang dikenalkan oleh (kemungkinan) orang-orang manajemen, tetapi saya mendapatinya pertama kali dalam sebuah business opportunity multi level marketing (MLM), populer disebut dengan rat race. Sederhananya, istilah ini mengacu pada satu wahana yang dibuat oleh pemilik mamalia seperti hamster agar mendapati sedikit kesenangan dengan berolahraga selain makan dan kawin. Wahana itu dibuat seperti treadmill yang dimaksudkan untuk mendapati efek berlari jauh padahal masih tetap di tempat semula. Seperti halnya kita berlari di lintasan treadmill begitu pulalah hamster yang memacu dirinya sekencang mungkin … di dalam sangkarnya.

Mari sejenak mengambil jeda dan mengamati sangkar-sangkar di sekeliling kita. Sangkar itu begitu halusnya sehingga nyaris jerujinya tak kasat mata dan kita seakan sedang menikmati hidup yang bebas dan berkelimpahan. Sejenak amati diri kita dan penderitaan yang tak sempat kita dengarkan. Bahagia itu sederhana. Seperti tidur nyenyak yang tak pernah bertanya harus dialasi koran atau kasur berbusa tebal. Mari kita syukuri hidup.

@salmanfaridi