the 100 year old depanBuku itu duduk dengan manisnya di antara deretan novel-novel laris pendatang baru. Saat buku pertama kali diciptakan melalui perkamen-perkamen kulit, kata laris dan memuncaki buku dengan penjualan terbanyak belum lagi ditemukan. Tetapi di situlah saya menemukannya, buku berukuran saku dengan warna dominan biru toska dan gambar seorang pria renta menyeret koper. Yang unik meski kovernya didesain sederhana judulnya teramat panjang untuk diucapkan dalam satu tarikan napas, 100 Years Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared. Akan cukup melelahkan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi, ya … saran saya biarkan saja dalam bahasa aslinya.

Debut pertama penulis asal Swedia ini boleh dibilang sukses. Bahkan bisa disebut luar biasa. Dalam waktu cukup singkat karya pertamanya yang berkisah tentang Alan yang tidak mempunyai keahlian apa pun kecuali membuat bom yang sedang menunggu perayaan ulang tahunnya yang ke-100 di sebuah panti jompo, berakhir manis dengan lisensi terjemahan ke dalam bahasa asing mencapai 30 bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Lahir di Swedia dengan nama lengkap Par Ola Jonas Jonasson, secara bunyi nama mantan pemilik media OTW ini terasa seperti nama orang Jawa Barat dengan rumus nama “tolong-menolong”. Maka begitulah muasal nama Adjat Sudrajat, mantan pemain PERSIB Bandung, Maman Sutarman, dan banyak nama lainnya yang secara kebetulan ditemui pada nama Jonas Jonasson; orang Swedia rasa Sunda.

Namun tunggu sampai membaca lembar demi lembar halaman kisah Alan si pembuat bom. Ada banyak kejadian heboh dan secara bersamaan tragis sekaligus lucu. Kisah Alan mengandung tikungan komedi tak terduga yang akan membuat pembaca berderai-derai air mata, karena sungguh terlalu banyak hal lucu yang secara etika tidak pantas dibocorkan sebab akan merusak rasa ingin tahu mereka yang belum membaca. Akan tetapi jika Anda memaksa, saya hanya akan menyebutkan satu bagian favorit saya di akhir cerita tentang usaha menyelundupkan seekor gajah melalui Bandar udara di Bali. “Indonesia adalah tempat di mana segalanya mungkin,” begitulah secara verbatim saya kutip saat Alan dan kawanannya berhasil masuk wilayah udara Indonesia.

Buku kedua Jonasson yang baru saja terbit oleh Bentang Pustaka membawa genetika dan bumbu rahasia yang sama dengan buku pertamanya. Sejujurnya saya tidak tahan menuliskan terjemahan dalam bahasa indonesianya yang kurang lebih berarti kisah Tua Renta Berumur 100 tahun yang Melompati Jendela dan Menghilang. Dengan obsesi Jonasson pada tema bom, kisah dalam buku kedua yang berjudul The Girl Who Saves The King of Sweden, diawali dari seorang lakon bernama Nombeko. Gadis buta huruf asal Afrika berumur belasan tahun yang pandai menghitung. Celakanya, dalam sebuah insiden tak terduga Nombeko akan berperan penting dalam satu lagi peristiwa besar yang akan menentukan sejarah dunia. Persis seperti Alan.

Tentang dua karyanya yang seolah terobsesi dengan tema bahan peledak, saya menemukan sedikit fakta menarik yang sudah jadi rahasia umum bahwa salah satu penghargaan prestisius saat ini justru diwariskan dan pundi-pundi kekayaan sang penemu dinamit: Alfred Nobel. Barangkali dengan mengambil inspirasi dari Nobel, Jonasson hendak membuat sebuah teorema tak terbantahkan bahwa sebuah akhir bahagia bisa muncul dari situasi-situasi tragis dan pilu. Seperti halnya Alfred nobel yang mengumpulkan kekayaannya dari darah banyak orang yang terbunuh hasil penemuannya yang gemilang. Penghargaan perdamaian nobel dibangun persis di atas pusara orang-orang yang diledakkan oleh perakit bom asal Swedia itu.

Cara berkisah Jonasson yang piawai seperti pendongeng ahli yang ketika bicara ngawur pun orang akan percaya. Uniknya, dalam gaya tulisan novelnya Jonasson memang seakan bercerita begitu saja tanpa skrip yang jelas. Dan justru di sinilah letak keasyikan membacanya. Saya pernah menonton sebuah film indie asal jerman berjudul Run Lola Run. Di dalam film itu dikisahkan tentang seorang tokoh bernama Lola yang berjuang menyelamatkan kekasihnya. Yang unik, setiap kali Lola berpapasan dengan orang lain, cerita begitu saja pindah kepada siapa pun orang yang Lola temui. Hal ini membuat kita mengetahui kisah-kisah lain yang bervariasi dan kaya.

Dalam seting kehidupan sebenarnya manusia yang umumnya fokus pada dirinya memang tidak punya waktu untuk mengenal kehidupan orang lain. Terlebih ketika hidup sendiri pun rasanya digayuti mendung kelabu yang hanya menawarkan kisah-kisah pilu dalam mode warna hitam dan putih, memikirkan orang lain hanya bikin “Pening Pala Barbie”. Saya sarankan Anda membaca kedua karya Jonasson ini dan tenggelam dalam lanturannya yang renyah sembari mengingat-ingat sesungguhnya di dunia ini tidak ada duka cita dan atau kebahagiaan yang abadi bahkan setelah mencapai mimpi sejuta dolar.

@salmanfaridi