“Perang adalah damai, kebebasan adalah perbudakan, kebodohan adalah kekuatan”

–George Orwel, 1984

Tampaknya situasi genting yang disebabkan oleh berkembang-biaknya gagasan Negara islam di sebuah tempat di Timur Tengah telah membuat banyak pihak panik. Kecemasan yang ditimbulkan telah melampaui skala di mana bangsa-bangsa di seluruh dunia prihatin dan mendesak perubahan dalam kadar segera. Sementara itu, sebagian negara turut pula mencemaskan eksodus warganya menuju medan perang, menggenapi ramalan akhir zaman tentang messiah dan bendera hitam yang muncul dari arah Khorasan. Inilah metamorfosis gerakan kekerasan yang kemudian menyebut diri mereka sebagai Islamic State atau IS (Negara Islam).

Akan tetapi sejauh ini banyak hal terkait IS dan lebih banyak lagi informasi lainnya justru membingungkan alih-alih memberikan jalan terang. Pertama, informasi yang menjelaskan bahwa IS lahir dari rahim beberapa negara besar dan kuat secara militer yang merupakan gabungan dari tiga negara yaitu Inggris, Amerika dan Israel. Sumber informasi ini disebut berdasarkan bocoran dari mantan pegawai NSA (National Security Agency) yang kini buron di Rusia, Edward Snowden. Dalam ketergesaan, sekaligus kebingungan, hidangan teori konspirasi ini lantas menjadi bahan bakar yang meledakkan bara yang bersembunyi di dalam sekam. Cara ini terbukti efektif menarik sekian banyak muslim militan untuk bergabung. Namun, kemudian, yang kontroversial, konon tidak pernah ada data yang menunjukkan bahwa Snowden pernah menyebutkan Inggris dan sekutunya berada di balik IS. Setidaknya, hal itu dipastikan melalui konfirmasi salah seorang penulis biografi Snowden, Gleen Greenwald.

Kebingungan lainnya adalah, terutama bagi muslim di seluruh dunia, kecuali organisasi teror serupa seperti Boko Haram di Nigeria, adalah tujuan utama IS yang ambigu, dan sudah pasti tidak bisa diraba. Dengan menyebut diri mereka islami, tetapi membantai sesama muslim sesungguhnya tidak mencerminkan aspek islam yang sesungguhnya; Islam yang ramah alih-alih islam yang marah—meskipun tidak sedikit juga yang nyinyir dan menganggap bahwa wajah islam yang sesungguhnya adalah ajaran berlumur darah. Perlu pula dicatat, andai kata pergerakan paling awal mereka, seperti yang sering dikutip media, adalah konfrontasi terbuka antara arus utama sunni dan syiah, IS juga membunuh muslim sunni lainnya yang tidak sependapat dengan gagasan mereka. Di tanah air, perseteruan cabang Islam ini dianggap seakan perang suci. Hampir-hampir setiap kubu di masing-masing pihak berani bertaruh darah untuk membela kebenarannya masing-masing.

Terakhir, di Indonesia, buntut dari semua kekacauan ini adalah ditutupnya akses informasi terhadap 19 situs media yang dikelola oleh aktivis muslim terhitung tanggal 31 Maret 2015 yang diduga menyebarkan informasi atau terindikasi menanamkan ajaran islam radikal. Gelombang protes dengan tanda pagar #kembalikanmediaIslam mencapai lebih dari 70.0000 kicauan dan memaksa pihak kementerian komunikasi dan informasi membuka jalan dialog dengan beberapa perwakilan media yang diblokir. Ini semua adalah residu yang sampai kepada kita sejarak ribuan kilometer jauhnya dan kita dihadapkan dengan dua versi atau beberapa versi kebenaran yang berbeda, bergantung siapa yang memberitakan. Percaya bukan lagi kata yang mudah, dan tentu bukan lagi teror namanya jika begitu mudah diungkap dalangnya.

Yang jelas benar adalah informasi yang kita terima setiap hari berupa akumulasi teror dalam jumlah luar biasa besar secara elektronik. Terkadang kita diberikan footage yang menggiriskan tentang individu-individu dari sebuah negara yang akan dieksekusi. Lalu ada sekumpulan orang digiring ke sebuah tempat yang akan menjadi tempat terakhir para tawanan ini melihat dunia. Juga, tidak lupa gambar-gambar diam dramatis yang dikirim begitu rupa dalam bentuk news lalu menjadi viral di jejaring media sosial hingga sampai kepada kita pada suatu pagi lewat layar smartphone sambil menyeruput kopi.

Tanpa kita tahu siapa, tentu ada pelaku atau dalam surat kabar kita sehari-hari sering disebut sebagai tokoh intelektual yang licin mirip rubah. Sebuah film produksi Hollywood berjudul Hunting Party yang dibintangi Richard Gere cukup jeli mengangkat isu tokoh cendekia di balik perang pembersihan etnis Bosnia yang dijuluki The Fox. Dalam plot yang asyik dan padat, kita dituntun untuk menemukan tokoh yang paling dicari, biang kerok perang, sampai-sampai diberikan hadiah uang sangat besar bagi siapa pun yang bisa menangkapnya. Namun, menariknya, bahkan setelah tertangkap, The Fox ini nyatanya cuma pemimpin lapis ketiga saja. Aktor yang sesungguhnya tidak pernah tertangkap sampai sekarang.

Di luar klaimnya sebagai sebuah negara yang berharap berdaulat dan diakui, IS cukup berhasil merepresentasikan dirinya sebagai negara islam elektronik dalam caranya yang agresif merilis berita, gambar, video, instagram, tweet, update status dan banyak metode lainnya yang menunjukkan bahwa “negara” ini eksis. Akan tetapi, aktor dan motif sesungguhnya tetaplah misterius. Aktornya bisa saja si fulan dengan motif utama penguasaan sumber daya ekonomi dan menciptakan ketidakstabilan di kawasan. Tugas kita adalah bergerak dari gugus kemanusiaan, bukan semata tergugah secara emosional lantas mudah terjebak dan diperdaya. Sebab manusia normal seperti saya, anda, kita, yang tak tahan mengatasi sembilu, tentu tak pernah rela dan tega melukai siapa pun atas dasar apa pun. Tetaplah tenang, tetaplah waras.

@salmanfaridi