Di pagi menjelang siang hari ini, mulutku terngaga dan dada bergetar ketika kuselesaikan lembar terakhir dari buku “Menikahlah Denganku” karya Annisa Andrie. Betapa sebuah takdir tak dapat ditebak sekalipun kita sudah merencanakannya sejak jauh-jauh hari dengan matang. Begitu pun dengan keyakinan akan mencintai seseorang, walaupun keyakinan itu sudah kuat tertanam tetapi ketika satu hal saja membuatnya lemah, maka lunturlah segala yang sudah ditanam itu, tercabut hingga akar bahkan tak bersisa.

Melihat fenomena saat ini, dimana kata-kata pernikahan menjadi hal yang begitu gampang terucap dari mulut dua orang manusia yang sedang merajut cintanya. Pernikahan seakan suatu hal yang gampang dan harus diselenggarakan dengan kemewahan sempurna, mungkin karena mengganggap bahwa pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup. Tapi realitanya, tak jarang saat ini pernikahan dilangsungkan lebih dari satu kali dalam kehidupan seseorang. Fenomena saat ini mengatakan seakan-akan kesakralan dari makna pernikahan itu sudah tak ada. Yang terpikir hanya lah sebuah resepsi pernikahan yang tidak mau seperti biasanya, resepsi pernikahan yang berbeda diantara yang lain, atau resepsi pernikahan yang istimewa.

Dibalik sisi mencari kemewahaan dan keistimewaan yang sempurna, ada pula yang hanya menganggap pernikahan adalah satu jalan untuk menggugurkan kata ‘bukan mahrom’ dan menghalalkan segala macam cara untuk itu. Hingga saat ini banyak beredar situs-situs jasa kawin siri tanpa wali. Padahal, disetiap agama pun mewajibkan adanya wali dalam suatu pernikahan. Tidak sembarang asal menikah dan menggugurkan status ‘bukan mahrom’ nya sehingga menjadi mahrom. Terkadang, hal ini mengingatkan kita pada beberapa tahun silam, waktu dimana adat menjadi peraturan yang saklek dalam kehidupan, termasuk penikahan. Tapi dengan adat yang diterapkan itu, makna dan kesakralan dari pernikahan lebih dapat diresapi. Namun, tentu saja, peraturan adat zaman dulu sudah tidak layak lagi untuk diterapkan, karena tergilas oleh arus globalisasi dunia.

Dari buku ‘Menikahlah Denganku’ kita bisa belajar, bahwa pernikahan tidak harus memiliki kemewahan dan keistimewaan yang sempurna. Karena setelah pernikahan itulah kemewahan dan keistimewaan yang sempurna harus diraih. Pernikahan perlu kemantapan hati, tidak setengah-setengah. Terkadang, orang yang kita kira hanya sepintas dalam kehidupan, ternyata ia lah yang lebih banyak memberikan bahunya untuk kita dan bersedia memberikan seluruh hidupnya bersama dengan kita. Jangan menyepelakan hal-hal kecil disekitar. Ada satu kalimat terakhir dalam buku ‘Menikahlah Denganku’ yang paling aku suka, “demi sempurna aku telah menafikan banyak hal, demi sebentuk cinta yang sempurna, aku mengerti bahwa hati yang tulus mencintaiku tanpa ragu adalah hati yang selayaknya akan kupercayakan seluruh cinta kepadanya.”

24650013

 

Alfina Rahmatia/@alfinrahmatia