PerempuanDi tengah maraknya arus globalisasi, buku ini hadir memberikan nuansa dan semangat baru bagi kaum perempuan yang ingin dirindukan surga. Menyambut tanggal 21 April, dimana seorang wanita pencerah hadir di Indonesia yang menjadi inspirasi dan motivasi bagi kaum perempuan untuk melakukan emansipasi wanita. Sejatinya, Islam sudah mempunyai kisah tersendiri yang menggambarkan perjuangan dan keberanian tanpa melunturkan keimanannya.

Buku ini menceritakan perempuan-perempuan yang menggetarkan surga, perempuan yang dinantikan kehadirannya di surga, bahkan sejak masih hidup sudah tercatat dalam Al-Quran dan hadits sebagai penghuni surga. Khodijah, perempuan agung istri Rasulullah Saw yang utama, perempuan yang bersih hatinya, karena walupun beberapa kali dipinang banyak pemuda, tetapi Khadijah tetap menjaga hatinya dan percaya pada mimpinya. Fatimah Az-Zahra, penghulu perempuan alam semesta. Fatimah adalah putri kesayangan Rasulullah, Fatimah perempuan yang cerdas dan yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Fatimah juga pernah ikut berjuang kemedan perang saat perang Uhud terjadi. Asiyah, perempuan yang teguh memegang keimanan, sekali pun dikelilingi tembok kebodohan, perempuan yang kukuh mempertahankan fitrah kemanusiaannya. Maryam, perempuan yang memiliki keteguhan jiwa dan yakin akan janji Allah Swt. Aisyah, perempuan yang memiliki rasa ingin tahu yang besar serta banyak bertanya, pikirannya kritis, pandai beradu argument, pemberani dan memiliki ilmu yang sangat dalam dan luas.

Sebagai perempuan yang hidup di zaman modern, kisah perempuan yang menggetarkan surge sudah menjadi kewajiban bagi perempuan saat ini untuk menjadi contoh dan teladan. Agar kita mampu menjadi perempuan yang tidak terwarnai oleh lingkungannya, seperti ikan yang tidak menjadi asin di dalam air laut yang asin. Kisah tadi sangat patut kita contoh, ketika begitu banyak terpaan, badai hedonism, ghazwul fikri (perang pemikiran) yang bias merusak umat islam. Tidak sedikit cerita seorang perempuan muslimah yang memandang apatis terhadap ajaran islam dan takut untuk berbuat kebaikan, bahkan ada yang akhirnya melepas jilbab karena pergaulan. Disinilah perlunya perempuan mewarnai, bukan terwarnai oleh lingkungan kita. Wallahua’alam, tugas kitalah sebagai saudara semuslim untuk saling ingat mengingatkan dan semoga kita mampu menjadi perempuan yang menggetarkan surga di zaman modern ini. Perempuan dengan emansipasi dan mimpinya, tanpa kebablasan dan tanpa menghilangkan fitrahnya sebagai seorang perempuan, amin.

Alfina Rahmatia/@alfinrahmatia