“Kisah ini dimulai dari sebuah pulau…,” beginilah Idries Shah, penulis The Sufis memulai sebuah misteri tentang para sufi. Melintasi berbagai kurun dan generasi, para instruktur yang tersembunyi dalam banyak simbol dan perkumpulan rahasia ini membantu manusia mengingat kembali memori lama tentang migrasi besar ke pulau lain dan mengajarkan kepandaian berenang. Sesungguhnya, kemampuan melintasi lautan ini merupakan alat bantu cadangan dari pembangunan sebuah kapal besar yang menjadi moda transportasi utama mengantarkan penumpangnya dengan selamat ke pulau keabadian.

Parabel menarik ini adalah penyederhanaan gagasan yang membantu menjelaskan ide besar tentang rumah istirah abadi manusia yang letaknya berada di tempat yang mungkin kita kenali dalam memori lama yang perlahan mengabur ketika setiap orang lahir ke dunia. Namun, jalan menuju pulang ternyata tidak semudah waktu datang. Manusia terjerembap dalam bahasa, dan kesadarannya dipenuhi oleh aneka konsep yang semakin lama menihilkan keberadaan kapal penyelamat, dan rumah tempat kembali. Dalam keyakinan modern, keabadian adalah tahayul, dan kematian adalah fase terakhir kemanusiaan sebelum dilumat tanah kembali menjadi debu. Selesai.

Akan tetapi, bahkan dalam mitologi kuno dan kepercayaan kuno jauh sebelum masa modern ini, kematian bukanlah akhir. Ia hanyalah satu fase dari fase berikutnya yang siap menyambut transformasi manusia. Kebudayaan Mesir kuno misalnya percaya bahwa si mati akan hidup abadi dan karenanya perlu disiapkan keperluannya dengan baik, terkadang dengan upacara pengorbanan manusia yang akan menjadi pelayan di kehidupan berikutnya. Dalam puisi Rumi transisi menuju keabadian itu dimulai dari mineral menjadi tumbuhan, dari tumbuhan menjadi binatang, dari binatang menjadi manusia, dan dari manusia menjadi malaikat … beginilah yang dilukiskan sufi paling masyhur dari Konya itu.

Bahasa tidak hanya menjadikan manusia ada. Bahkan semesta ketika diurai tak lain merupakan susunan huruf, kata-kata, surat dan ayat-ayat. Dalam ilmu pengetahuan tentang huruf-huruf, Ibn Arabi menjelajah susunan 28 huruf hijaiyah dan menyusun ulang huruf itu ke dalam sebuah sistem kosmos yang berawal dari huruf Alif, yang berarti pena dan akal pertama, dan berakhir pada huruf Waw, yang melambangkan tujuan akhir manusia terangkat ke dalam derajat spiritual. Dalam tradisi Yahudi, ajaran kebatinan serupa yaitu Kabalah, mengenal kosmologi sejenis yang mengajarkan pengetahuan rahasia di balik huruf-huruf Alephbeth (alphabet Yahudi) yang tampak di permukaan. Bagi sebagian orang gagasan ini tampak magis, padahal yang benar adalah mistik. Tetapi kini bahkan sukar membedakan mana mistis mana sihir, mana buah pengetahuan yang benar, dan mana yang menyesatkan.

Salah satu episode paling menggetarkan dalam transfigurasi huruf ini adalah apa yang digambarkan dalam buku Sang Musafir (hlm. 42-43), yang disusun oleh penulis Turki Sadik Yalsizucanlar dari catatan-catatan pribadi Ibn Arabi. Diceritakan dalam salah satu pengalaman mistis Ibn Arabi secara terus menerus mengulang-ulang kata “Muhammad” dan lalu berubah-ubah bentuknya menjadi “Adam”, lalu berarti “darah”. Bagi yang tidak memahami bahasa Arab, perubahan ini tidak akan dimengerti kecuali dengan menunjukkan perubahan huruf-huruf yang menyusunnya. Semisal Muhammad disusun dari huruf Mim-Ha-Mim-Dal. ketika menjadi Adam susunan huruf itu berubah menjadi Alif-Dal-Mim. Ketika alifnya menghilang tertinggal Dal-Mim, yang berarti darah.

Perubahan susunan huruf ini berarti bahwa Muhammad bermuara kepada tanah yang sama yaitu adam, yang juga memiliki bau darah yang sama. Hanya saja, Ibn Arabi menjelajah lebih jauh dengan mengenalkan konsep Hakikat Muhammad atau disebut Nur Muhammad yang memancing banyak pendapat yang bernada mengecam, terutama ulama fiqih, yang menyatakan bid’ah bahwa Muhammad sudah lebih dulu muncul sebelum Adam. Padahal maksud Ibn Arabi adalah bahwa Nur Muhammad yang dibicarakan bukanlah menunjuk semata Muhammad yang hidup di Makkah dan Madinah, akan tetapi hakikat muhammadiyah yang hidup abadi yang sejatinya, menurut klaim para sufi, adalah satu. Dalam pengertian ini setiap nabi, juga orang-orang suci lainnya, yang telah menyelesaikan tugasnya berasal dari cahaya yang sama terpujinya. Inilah pula yang dapat dipahami dari perkataan Nabi Saw. “bahwa aku telah menjadi nabi, ketika Adam masih berada di antara tanah dan air.”

the name of the rose depanPada abad ke-12 di sebuah daerah selatan Prancis yang dikenal dengan Provence, muncul para penyair yang disebut Troubador, yang kemudian melahirkan Dante dan kisah cintanya dengan Beatrice. Mereka adalah para penyair yang mengadaptasi bentuk puitik orang-orang Arab-Andalusia tidak terkecuali Ibn Arabi. Sejauh yang bisa ditelusuri salah satu inspirasi puitik mereka adalah karya Ibn Arabi berjudul Tarjuman Al-Asywaq yang berarti penerjemah kerinduan. Nama Troubadour sendiri konon adalah sebuah tarekat sufistik yang berkembang mula-mula di Eropa. Salah satu cirinya adalah simbol rahasia yang digunakan untuk menginisiasi para pengikutnya yaitu bunga mawar, simbol yang sama yang digunakan para sufi, yang sering diartikan sebagai pintu masuk menuju dunia ruh. Bukan kebetulan jika Umberto Eco, penulis spesialis abad pertengahan, kemudian mengambil inspirasi karya best-sellernya dengan judul The Name of The Rose.

@salmanfaridi


Essay ini diumumkan di Harian Bernas, 3 Maret 2015.