Salah satu dari sekian banyak yang saya garis bawahi dalam buku ‘Orang Jujur Tidak Sekolah’ Karya Andri Rizki Putra (Kiki) adalah betapa besarnya nilai sebuah kepercayaan. Betapa bernilainya sebuah frasa sesederhana “saya percaya kamu bisa”. Manusia pada dasarnya adalah sebuah potensi yang begitu besar, bukan? Manusia dapat mengolah diri bagaimanapun dan dengan cara apapun sesuai kehendaknya. Manusia begitu luas. Terbatas, memang, namun sungguh luas hingga kita tidak (belum) mungkin dapat mengeksplor seluruh kemampuan yang ada di diri manusia dalam satu periode masa hidup.

Melihat kepercayaan dan dukungan yang begitu besar dari Ibunda Kiki terhadap jalan non-konvensional yang ditempuh oleh Kiki, saya merasa tersentuh. Manusia dilahirkan memang dengan kebebasan. Namun norma, nilai, kebiasaan yang ada dalam masyarakat memenjara kita dengan sedemikian rupa hingga kita melupakan kebebasan dan pilihan-pilihan lain yang ada. Kiki, menyadari benar hal itu. Kiki mempertanyakan apa yang biasanya kita terima saja tanpa banyak tanya. Dan pertanyaan, kegelisahan itu, tidak ia acuhkan. Kiki berani mengambil tindak nyata sebagai jawab bagi pertanyaan yang ia lontarkan.

Orang Jujur Tidak SekolahBaiklah, berapa dari kita yang jengah akan praktik kotor pendidikan dan berusaha untuk jujur dalam mengenyam pendidikan? Tentu bukan hanya Kiki saja. Namun berapa dari kita yang tidak berhenti di titik ‘menerima’ namun justru mengambil keputusan dengan gagah untuk mundur dan merombaknya? Mungkin sejauh ini baru Kiki.

Besarnya Nilai Sebuah Kepercayaan

Kiki, menyadari bahwa ia adalah manusia bebas yang mampu memilih jalan di luar ‘jalan pasti menuju kesuksesan’ yang ditetapkan dalam masyarakat. Meminjam analogi ikan salmon yang ada dalam bukunya, Kiki telah berenang melawan arus dan menjadi ‘mahal’.

Tentu berenang melawan arus sangatlah berat. Namun di sinilah tiap manusia diuji. Pilihan untuk menyerah dan mengikuti arus yang ada di masyarakat adalah jalur termudah, dan seperti halnya apapun yang mudah-mudah, pilihan itu juga sangat menggoda. Namun sampai situ sajakah kemampuan seorang manusia untuk berjuang? Tidak. Kiki membuktikannya dengan berenang melawan arus hingga kini. Kiki membuktikan bahwa manusia sepantasnya mampu berjuang demi apa yang dia yakini meski sangat tidak lazim. Memang sesuatu yang lazim dalam masyarakat tidak lantas dapat menjadi sebuah kebenaran. Dan sesuatu yang tidak benar, meski dilazimkan, tetap membutuhkan perubahan.

Dan apa yang membuat Kiki mampu berjuang sebegitu rupa? Melawan kelaziman yang keliru dalam masyarakat? Kepercayaan yang dilimpahkan seutuhnya kepada Kiki oleh Ibundanya. Tidakkah hal ini luar biasa? Betapa Kepercayaan dapat menjadi motor bagi daya juang seorang manusia.

Talitha Fredlina Azalia | @tithawesome