Arus BawahHari ini, saya sampai pada titik terakhir yang menutup rangkai kata dalam buku Arus Bawah karangan Cak Nun. Saya menutup buku itu dengan perlahan, dengan sebuah perasaan yang sungguh tidak dapat saya gambarkan.

Cak Nun telah membawa saya mengarungi sebuah kisah, sebuah dialog, yang begitu sarat makna. Dan di sinilah saya, perlahan membuang napas. Entah harus merasa bagaimana. Entah harus berfikir bagaimana. Hanya dapat diam, meski sejurus kemudian bagai kesetanan saya mengetikkan tulisan ini di laman word kosong.

Punawakan Resah

Segalanya bermula dari hilangnya Kiai Semar. Kehilangan menjadi katalis, yang memaksa Gareng, Petruk dan Bagong untuk resah. Semakin resah akan situasi Karang Kedempel. Semakin resah akan sistem kekuasaan dan hubungan sosial kemasyarakatan di Karang Kedempel.

Ketiga punakawan kita itu (sebenarnya hanya Gareng) mempertanyakan ke mana hilangnya Kiai Semar, mengapa Kiai Semar menghilang, padahal misi mereka di Karang Kedempel jauh dari selesai. Keresahan yang berawal semata hanya dari fenomena hilangnya Kiai Semar, lalu merembet menjadi persoalan yang lebih filosofis, lebih politis.

Ah sudah, saya takut malah spoiler.

Arus Bawah merupakan kritik yang sangat pintar dan puitis akan pemerintahan. Penggunaan keempat punakawan sebagai karakter utama menurut saya adalah langkah yang sangat cerdik. Punakawan, dalam wayang, adalah kemlengsean. Punakawan adalah tokoh gubahan dalang yang keluar dari pakem yang telah ada dalam epos Mahabharata maupun Ramayana. Mereka dapat dinobatkan sebagai agen perubahan, karena mereka sendiri adalah perubahan. Untuk itu pula lah keempat punakawan ini diturunkan ke marcapada; untuk menjadi alternatif, membawa perubahan bagi marcapada yang terlanjur larut dalam pakem enggan untuk berubah maupun berkembang.

Dan bukankah kita memang butuh perubahan ini? Bukankah kita memang butuh punakawan yang turun dari jonggring saloka semata untuk menampar wajah kita yang melulu cengangas cengenges cekakak cekikik menganggap segalanya sebagai guyonan? Atau untuk menempeleng kepala kita yang hanya inggah inggih menurut pada penguasa tanpa menganalisis kebijakan penguasa tersebut terlebih dahulu?

Gerakan Punakawan

Kini, saya melihat beberapa punakawan mulai bergerak. Sebut saja Andri Rizki Putra. Punakawan di bidang pendidikan. Ia bergerak dari tingkat paling mendasar, tingkat akar rumput. Untuk mendidik dan menciptakan generasi pemimpin yang baru, yang tidak harus ternodai oleh dunia pendidikan di Indonesia yang kerap kali melakukan praktik kotor. Sebut saja Gamal Albinsaid. Punakawan di bidang kesehatan dan lingkungan hidup. Ia mendirikan Klinik Asuransi Sampah yang menukar jasa kesehatan primer dengan sampah.

Sungguh, telah kita lihat punakawan-punakawan ini yang bergerilya merubah pakem-pakem yang telah ada di kepala kita. Merubah gerak kita yang sering kali hanya ke atas. Padahal, seperti nasihat Kiai Semar kepada Gareng dalam buku ‘Arus Bawah’;

“Perubahan harus dilakukan dari bawah dan tidak dengan kekerasan. Ada beratus segi yang diperlukan dalam perubahan, bukan sekadar moral politik seorang pemimpin. Kalau segi-segi yang bermacam-macam itu tak berubah, siapa pun yang menjadi pemimpin, akan kembali menjadi Raja seperti yang kamu protes itu”

Gerak ke atas kita tidak akan dapat merubah banyak hal, karena masalah-masalah yang sejati berada di tingkat dasar. Masalah-masalah yang sejati terletak dalam mentalitas dan perspektif masyarakat sendiri. Maka, kita butuh gerak ke bawah. Kita membutuhkan arus bawah dan punakawan-punakawan yang tabah.

Talitha Fredlina Azalia | @tithawesome