Tulisan ini saya anggap sebagai catatan kaki saja terhadap karya Emha yang pernah saya nikmati 20 tahun lalu. Bagaimana tidak? Saya mula-mula belajar menulis dengan mengamat-amati gaya menulis Emha dan menyusun diksi yang mendaki-daki sambil melakukan akrobat. Kata disusun berlapis-lapis, sambil sesekali mengenalkan istilah-istilah yang diambil dari kosa kata jawa, filsafat, tasawuf, bahasa arab, sesekali bahasa inggris, namun dengan cara yang elegan. Begitulah kira-kira pengalaman saya puluhan tahun silam ketika mula-mula membaca dua buku Markesot terbitan Mizan Pustaka.

anggukan ritmis kaki pak kiaiSedang Tuhan pun cemburuAkan tetapi saya cukup takjub bahwa emosi saya ketika membaca karya-karya Emha yang kembali diterbitkan Bentang Pustaka, terutama esai-esainya, Sedang Tuhan pun Cemburu dan Anggukan Ritmis Kaki Pak Kyai, tetap sama. Beberapa bagian yang dulu sulit dicerna, mungkin sesuai pertumbuhan usia, remang-remang dipahami. Terutama suluk spiritual yang tersembunyi dari hingar-bingar mata kasat orang awam dari jalan hakikat yang penuh liku dan sunyi. Maka tidak heran ketika Emha berasyik Masyuk dengan puisinya yang ingin bermesraan dengan Tuhan dalam 99 Untuk Tuhanku, sontak namanya dihujat dalam sebuah artikel di majalah Islam. Begitulah, terhadap pengetahuan batin orang sering kali salah paham.

Angka 1998 bukanlah angka keramat, sebenarnya, tahun itu saya sisipkan sebagai fase melihat kulminasi Emha pada masa orde baru. Gairah dan kegelisahannya terhadap banyak hal tecermin dalam semua esainya. Orde yang dipenuhi tata karma “Menurut Petunjuk Bapak Presiden” itu memberikan Emha energi untuk terus menulis. Yang paling kolosal adalah novel-esai Arus Bawah. Tulisan yang dimuat bersambung kurun waktu 1991-1994 itu sangat piawai melancarkan jurus menyerang rezim namun bersembunyi dengan rapi di balik tabir keelokan bahasa dan metafora. Terkadang saya heran, Emha pasti punya “kesaktian” untuk membuat dirinya melenggang bebas menulis cukup lama dan lepas dari jeratan subversif. Pada tahap ini saya lalu ingat bahkan Seno Gumiro Ajidarma pun menyembunyikan sekaligus membunyikan karya jurnalistiknya dalam kemasan sastra.

Salah satu jalan memahami alur pikiran penulis adalah melihat konteks, peristiwa, sistem dan tata nilai yang mewujud ketika Emha menulis. Inilah yang perlu dipahami pembaca saat ini yang tumbuh besar dengan privilese yang begitu melimpah ruah. Kebebasan dari ketakutan bahwa kita diawasi oleh seseorang, dan seseorang itu diawasi oleh seorang yang lain, dan seorang yang lain, lalu orang lain dari yang lain-lain. Inilah yang dinamakan pengawasan melekat. Kita tidak pernah tahu siapa dan tidak pernah bisa percaya siapa pun. Sebentuk teror sistematis yang diciptakan rezim.

Melihat masa sebelum 1998 meyakinkan kita bahwa Indonesia perlu berubah menjadi Negara demokrasi seutuhnya. Suara-suara rakyat yang tertekan tetapi dielus-elus oleh para pemimpin agama sebagai cobaan bagi yang sabar adalah pengkhianatan ulama pada mereka yang dilemahkan. Itu, mengapa dalam perkembangan gagasan manifestasi islam yang cukup heroik, jilbab menemukan landasannya. Karena ia dilarang di bawah panji-panji orde baru, maka pembangkangan kemudian menemukan artikulasinya dalam keberanian menutupi aurat. Jilbab tidak hanya fungsional tetapi ideologis, sebuah gerakan menolak patuh pada kekuasaan. Maka sungguh miris jika atas dasar komodifikasi penutupan aurat pengguna hijab sekarang diadu domba oleh sesuatu yang legal-formal dan dibatas-batasi oleh mode tertentu yang lebih syar’i. Ternyata di atas sempurna ada yang lebih sempurna. Setelah syar’I masih ada yang lebih syar’I dan sialnya, dalam gerak vertikalnya, formalisme baru itu malah menihilkan keindonesiaannya.

Seperti kapitalisme yang tak pernah mati karena selalu dikritik, bentuk kapitalisme baru selalu hadir secara evolutif, menyaru dalam bentuk-bentuk yang subtil. Sedemikian halus sehingga tak terasa. Pun demikian yang terjadi pada isme-isme yang sudah beredar di sekitar kebudayaan manusia Indonesia yang juga habis-habisan dikritik Emha puluhan tahun silam. Segala bentuk berhala baru yang tersembunyi dalam isme-isme itu pada hakikatnya tidak pernah mati. Ia hanya berevolusi. Karena alasan inilah mengapa membaca Emha kini, bahkan jauh selepas musim reformasi melepaskan anak panahnya pertama kali pada 1998, tetap relevan. Dari gurihnya diksi-diksi yang mengandung labirin makna. Dari istilah-istilah kreatif yang secara akrobatik dipermainkan Emha, kita bisa menyusu pada kebijaksanaannya.

Arus BawahAkan halnya demokrasi, toh akhirnya kita semua tahu lakon utamanya tetaplah aktor yang sama dari episode yang berbeda pada generasi sebelumnya. Bedanya, mereka yang dulu patuh dan takut-takut menunggu petunjuk, kini leluasa menggasak milik rakyat secara bancakan bahkan mewariskan kerusakan moral yang sedemikian parah. Barangkali benar seperti yang diramalkan George Orwell, sewaktu menulis Animal Farm, kita ini adalah binatang malang yang tetap buta dengan ilusi demokrasi yang, menurut Noam Chomsky, sesungguhnya dikendalikan secara fasis dari atas ke bawah. Bedanya organisasi demokratis kepartaian kini berbentuk perusahaan modern yang dipimpin oleh seorang direktur yang menciptakan petugas-petugas partai yang nilai kepatuhannya terlebih dahulu dipersembahkan untuk pemimpinnya dibandingkan kepada rakyatnya. Tiba-tiba saja saya rindu Cak Nun menulis lagi.

@salmanfaridi