Poster Angkringan Komik #2  (FIX)

Angkringan Komik #2 di halaman Bentang Pustaka 27/2/2015 menghadirkan Hasmi, kreator Gundala Putra Petir.

Ini adalah catatan dari Angkringan Komik #2 Bentang Pustaka, 27 Februari 2015.

Siapa yang pernah dengar tentang Gundala Putra Petir? Si Buta dari Gua Hantu? Wiro Sableng? Nama-nama itu adalah judul komik-komik Indonesia yang dibuat oleh komikus Indonesia di era kejayaan komik Indonesia, tahun 1960 hingga 1970-an.

Pada era tersebut, komik Indonesia banyak diproduksi dan menghasilkan masterpiece yang hingga saat ini masih dikenang. Komik Indonesia pada masa-masa itu, meski banyak mengikuti gaya menggambar komik-komik superhero Amerika, namun memiliki konten lokal yang cukup kental.

Sebut saja Gundala Putra Petir karangan Hasmi yang gaya menggambarnya setipe dengan komik-komik superhero Amerika, namun gaya penceritaannya masih sangat khas Indonesia.

Selain itu, terdapat juga komik yang memang sangat ‘Indonesia’ baik dari sisi cerita maupun budaya yang diangkat, seperti Si Buta dari Gua Hantu karangan Ganes T.H. konten lokal inilah yang membuat komik-komik Indonesia masa itu menjadi sangat menarik dan tak lekang oleh waktu.

Sayangnya, setelah tahun 1980-an, komik Indonesia mulai surut ditelan zaman. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut Pak Hasmi dalam acara Angkringan Komik yang diselenggarakan oleh Bentang Pustaka hari Jumat (27/2/2015) lalu, salah satu faktornya adalah kurangnya dukungan pemerintah atas industri komik Indonesia.

Pak Hasmi dalam kesempatan itu bercerita bahwa pada tahun 1981, komikus-komikus Indonesia diminta membuat komik oleh pemerintah Indonesia mengenai Serangan Umum Satu Maret. Pemerintah menjanjikan untuk membeli komik tersebut dalam jumlah besar untuk dibagikan ke seluruh sekolah dasar di Indonesia, sehingga perhatian komikus Indonesia menjadi terfokus pada proyek besar tersebut.

Naasnya, proyek itu gagal dan menyebabkan kerugian yang besar bagi para komikus indonesia. Insiden ini membuat industri komik Indonesia menjadi lesu. Sehingga ketika komik asing mulai membanjiri pasar dalam negeri, industri komik Indonesia terpaksa harus mati suri selama puluhan tahun karena kalah bersaing.

Geliat Komik Indonesia

Kisah industri komik indonesia namun tidak berhenti disitu saja. mulai tahun 2000-an, industri komik Indonesia mulai menggeliat bangkit dari mati surinya. Dibantu dengan kebebasan media dan informasi di internet, komik Indonesia berusaha meraih kembali kejayaannya. Ditandai dengan munculnya kembali komik-komik Indonesia di pasaran, komunitas-komunitas komik Indonesia, dan online platform yang mewadahi karya-karya komikus Indonesia seperti ngomik.com.

Kebangkitan ini diawali oleh rasa keprihatinan muda-mudi indonesia akan banjirnya komik-komik luar negeri di Indonesia. Mereka lalu berusaha mengenalkan komik buatan lokal Indonesia ke masyarakat pada akhir 1990-an dan awal tahun 2000-an. Awalnya, komik yang diproduksi masih sangat low budget, sekedar untuk menarik simpati masyarakat akan produk lokal dan menumbuhkan semangat berkarya para komikus.

Usaha ini terbukti berhasil. Nyatanya, banyak bermunculan komikus-komikus Indonesia dengan karyanya yang menarik perhatian pencinta komik nusantara seperti Garudayana karya Is Yuniarto yang diterbitkan pertama kali sejak tahun 2009. Forum-forum dan komunitas-komunitas komik Indonesia pun mulai tumbuh menjamur. Forum dan komunitas ini menjadi wadah bagi para komikus untuk mulai mengaktualisasi diri dan berkarya. Dalam forum dan komunitas inilah lalu para komikus mulai menjaring pembaca dan peminat komik. Dengan dukungan dari kawan-kawan komunitas dan tentunya link-link yang tersedia, maka komikus Indonesia kini mulai memasuki penerbit-penerbit seperti Bentang Pustaka.

Terlepas dari kabar baik ini, industri komik Indonesia kini masih menghadapi berbagai persoalan yang cukup genting pula. Seperti minimnya dukungan pemerintah dan masyarakat umum sendiri, persoalan kontrak dan intellectual property, hingga persaingan di pasar yang sangat berat karena pasar telah terlanjur dikuasai oleh komik-komik luar negeri.

Berbagai cara ditempuh oleh penerbit dan komikus untuk mengatasi persoalan ini, salah satunya adalah dengan mengadaptasi gaya menggambar komik Jepang dan Amerika yang marak di pasaran lalu memadukannya dengan berbagai konten lokal.

AngKom1Meski komik Indonesia pada awal munculnya memiliki gaya menggambar yang sangat realis seperti komik-komik RA Kosasih dan Ganes T.H., akan tetapi adaptasi ini terbukti berhasil menarik hati para pencinta komik nusantara. Kini, penerbit Indonesia telah banyak menerbitkan komik-komik lokal Indonesia dan merangkul para komikus indonesia. Seperti yang dilakukan oleh Bentang Pustaka dengan menerbitkan lini Bentang Komik dan mengadakan acara seperti Angkringan Komik.

Meminjam istilah ‘Kickers’ Arsyad, komikus Garuda19, industri komik lokal saat ini sedang mengalami hujan deras. Yang awalnya industri komik Indonesia sangat kering akibat mati suri selama puluhan tahun. Lalu mengalami masa ‘gerimis’ dari awal 2000-an dengan munculnya segelintir komunitas komik indonesia dan komikus berbakat.

Hingga kini mengalami ‘hujan deras’ yang ditandai dengan banyaknya komik Indonesia yang bermunculan di pasaran dan menjamurnya komunitas komik Indonesia. Tinggal menunggu dan mengusahakan munculnya ‘banjir bandang’ yang akan mempopulerkan komik Indonesia ini lebih luas hingga seluruh pelosok tanah air dan luar negeri. Mimpi ini bukanlah mimpi yang muluk. Karena dengan adanya kerjasama dan kesepahaman yang baik antara pihak-pihak yang terlibat, mimpi ini pasti akan dapat diwujudkan meski harus melewati proses yang panjang.

Talitha Fredlina Azalia | @tithawesome