Dhalang nyentrik, Sujiwo Tejo, kembali melontarkan kritik tajam tentang Demokrasi. Kritik itu disampaikan Simbah, begitu dia lebih akrab disapa, lewat serangkaian cuitan di akun media sosialnya @sudjiwotejo.

Menurut Simbah, masyarakat mungkin banyak yang lupa bahwa Demokrasi sebenarnya klenik juga. “Benarnya orang banyak dianggap kebenaran. Padahal, sebenarnya orang banyak belum tentu adalah kebenaran. Apalagi dengan rekayasa media/survei, orang berduit bisa jadikan benarnya sendiri jadi benarnya orang banyak,” cuitnya.

simbah tanda tangan

Simbah saat tanda tangan di buku Rahvayana 2 usai acara peluncuran, Yogyakarta, 14/2/2015.

Dhalang sekaligus penulis yang tengah Februari kemarin meluncurkan bukunya di Yogyakarta ini berkicau, seandainya benarnya orang banyak adalah kebenaran, maka sampai sekarang bumi akan dianggap datar. Karena, “Cuma segelintir orang, termasuk Columbus, yang bilang bumi tak datar,” tambahnya.

Simbah menyoroti negara-negara yang mengampanyekan Demokrasi. Menurutnya, (negara) asing paling gampang mengacak-acak negara yang sudah impor Demokrasi. “(Negara-negara itu) mainkan UU-nya via banyak mulut pribumi,” kata seniman kelahiran Jember, 31 Agustus 1962. Padahal, “Sebenarnya, bagi asing, kamu mau #Demokrasi/nggak ndak soal, yang penting investasi mereka aman di negerimu,” imbuhnya.

Lebih lanjut lagi, Simbah menyitir Noam Chomsky, (negara) asing kadang malah mendukung negara kembali dari Demokrasi ke militeristik. Balikmu dari Demokrasi ke negara totaliter secara militer, justru akan didukung asing kalau untungkan investasi mereka. “Bagi akal sehatku, pengagum Demokrasi sama aja dengan pengagum keris, batu akik, kuburan dll,” cuitnya mengakhiri kultwit tentang Demokrasi adalah klenik.