TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Wahid Institute baru-baru ini merilis kajiannya terkait kekerasan dan intoleransi beragama di Indonesia. Di mana DIY menempati peringkat dua sebagai daerah dengan kasus intoleransi terbanyak.

Salah satu penyebab konflik yang marak terjadi adalah karena orang tidak meletakkan masalah pada tempat yang semestinya. Hal tersebut diungkapkan budayawan Candra Malik dalam diskusi bertajuk ‘Agama Ramah, Agama Rahmah’ di kantor Bentang Pustaka, Jalan Plemburan Sleman, Jumat (2/1/2015).

Pria yang biasa disapa Gus Can itu mengatakan ada dua pintu untuk mendekati Tuhan yaitu cinta dan hukum. Saat ini kerap orang menggunakan pendekatan hukum dalam beragama bukan cinta dan kasih.
“Kalo paham mendudukkannya akan enak sekali kita beragama,” ujarnya.

Gus Can mengajak agar mulai mengenal diri sendiri kemudian menjaga keluarga agar tidak terjerumus ke dalam radikalisme.

“Jika agama itu kebenaran maka berhentilah saling menyalahkan,” pesannya. (*)

Sumber: Tribun Jogja