Kadang saya mikir, kenapa saya setahun belakangan ini saya sudah jenuh sama Twitter? Tiap ada sesuatu yang ingin saya bagi, biasanya akan melewati “penyaring dalam” yang menjadikan suatu post bakal melalui pemikiran yang nggak sebentar. Deuh, padahal ujung-ujungnya ngetweet hal-hal absurd gitu doang. Hehehe, yayaya. Bukannya mau sok-sokan, tapi nggak tau sejak kapan, Twitter dan Facebook jadi biasa aja buat saya. Akun-akun personal saya seakan menjelma jadi akun “korporat” yang isinya cuma nge-retweet dan nge-share acara kantor. Kayaknya, udah lewat lah, masanya saya gentayangan ngegalau segalanya di sana.

Lantaran udah mulai bosan sama keruwetan di Twitter, jadilah saya juga coba main-main ke Path, Instagram, dan sedikit aktif lagi di facebook (cuma buat nge-like foto bayi-bayi temen tapi). Hehe, tapi tetap aja ada titik bosannya. Suka main path di enam bulan pertama pakai aja, selanjutnya, ya, jadi Path “soto bening” lagi lah akun saya, alias sepi.

Hmmm… selain saya, ada nggak sih orang yang berpikiran sama? Apa mungkin orang-orang bakal jenuh sampai akhirnya si Twitter dan Facebook ini bakal gulung tikar macam Friendster dan MySpace?

Ternyata jawabannya ada di sini, di hajatan perdana Wedangan Inspirasi (19/12) yang diadakan Bentang Pustaka, di markas mereka di Jalan Plemburan, Sleman. Temanya mengenai masa depan media sosial di tahun 2015. Pas banget, kan, sama kegelisahan saya?

Sejak sore, saya udah ikut gabung di acara Angkringan Komik yang seru dan membuka mata kita kalau ngomik bisa membuatmu “sesubur” perut mas Mail Sukribo, salah satu pembicara sore itu. Hujan deras yang mengguyur sampai lewat Maghrib makin membuat kami betah duduk, ngobrol, jamming (yes yes, ada musik akustiknya juga lho!), sambil menyantap hidangan gratis dari angkringan yang sudah disediakan.

Di acara ini saya ketemu sama para biang, pelaku, dan para pemerhati medsos. Ada Pakdhe Senggol, pemilik akun Twitter pribadi @senggOL dan akun informasi @JogjaUpdate, yang cerita perjalanan akun informasi yang digagasnya, JogjaUpdate, sampai bisa jadi sebesar sekarang. Bukan badan Pakdhenya lhooo *ampun Pakdhe!* Beruntung karena acara ini juga kedatangan banyak wajah-wajah penasaran yang terus membombardir pembicara dengan pertanyaan. Salah satu dengan pertanyaan paling lugu yang saya dengar di hari itu, “Bagaimana cara menghasilkan uang dengan Twitter?” Sederhana, tapi ini adalah esensi dari segalanya . Ouwooo!Uang! Ouwo, lagi-lagi uang! Pertanyaan ini dihajar-bleh aja sama si Pakdhe, “Ya, berusaha bikin akun yang berkarakter dong.”

Seorang pembicara lainnya, Mas Iwan Awaluddin, pemerhati media dan dosen Komunikasi UII, ikut urun jawab di sini. Punya karakter, unik, itu pasti. Juga tentang bagaimana kita membangun interaksi dengan followers dan ngasih yang mereka butuhkan. Mas Iwan juga nambahin pemahamannya tentang 3 tipe pengguna medsos: 1). Pengguna produktif yang mengisi waktunya untuk berjualan, promosi, dan lainnya; 2). Mereka yang selo; dan, 3). Mereka yang kesepian, yang menjadikan medsos sebagai pelarian. See? Hayooo, kamu termasuk yang mana?

Mba Intan, editor Nonfiksi Bentang, selaku moderator untuk diskusi ini menjaga flow agar tiap pembicara dan penanya dapat porsi yang seimbang. Nah, giliran Mas Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka alias tuan rumah acara ini menjawab pertanyaan tentang perlunya profesi khusus untuk menangani sebuah akun medsos. Menurut Mas Salman, akun medsos memang harus ditangani secara khusus. Makanya, meski sampai sekarang masih ada kekurangan, pemeliharaan akun ternyata sudah menjadi prioritas Bentang. Nggak bisa lagi dianggap urusan sepele, yang bisa disambi-sambi sama orang redaksi atau hrd. Bentang yang sekarang telah memiliki tim khusus untuk menangani medsos, dengan jadwal dan acara khusus setiap harinya. Followers bisa mengetahui buku apa yang akan diluncurkan, ngobrol dan membaca kultwit penulis dan editor, sampai ada lelang buku untuk seru-seruan.

Mengenai pertanyaan tentang tren medsos di tahun 2015, saya jadi ikut deg-degan ngedengernya. Twitter, masih akan bertahan, hal ini disepakati oleh Pakdhe dan Mas Iwan. Namun, mengenai penurunan aktivitas di sana, sepertinya akan menjadi tantangan para mereka yang mengais rejeki sebagai selebtweet. Pakdhe bilang juga sih, keluhan mengenai jumlah followers baru yang didapat setiap bulannya, ternyata dialami hampir semua admin Twitter termasuk JogjaUpdate. Penyebabnya? Bisa jadi, karena masih terasanya efek jenuh semrawutnya timeline kala Pemilihan Presiden 2014 lalu. Atau mungkin, karena sudah ada medsos baru yang menawarkan pengalaman berbeda, pengguna Twitter pelan-pelan pindah ke Path atau Instagram. Pakdhe Senggol juga mengakui kalau tarif menjadi buzzer di Instagram lebih tinggi dari di Twitter. “Makanya JogjaUpdate kini mulai membesarkan Instagram, kita harus peka sama perubahan.” Peka, karena tren kadang nggak bisa diprediksi. Mereka yang berkarir dengan sebuah platform harus bisa berpindah jika nanti platform itu sudah nggak lagi diminati.

“Ikutin semua itu seru, tapi nggak perlu terlalu fanatik sama satu jenis tertentu, karena semua pasti ada saat tren naik dan turunnya,” Mas Iwan menyimpulkan.

Setuju deh sama Mas Iwan, yang juga memprediksi kalau website berisi tulisan kontributor seperti Kompas.com hingga Mojok.co akan makin berjaya di tahun depan. Wih, nggak sabar panen penulis nonfiksi cihuy dari sana. Benar-benar pengalaman berkesan, menghabiskan sore dan petang di Bentang, kumpul dan ngobrol tentang banyak hal.

Well, sampai jumpa di wedangan selanjutnya. Denger-denger temanya “What HRD Wants from Fresh Graduates”. And I already got the chills! Wuahahahaa see you!

*Desain poster dan foto-foto #WedanganInspirasi oleh Tofa Wardoyo

😉

Sumber: baiqnadia.tumblr.com