Mungkin agak membingungkan mencoba menghubungkan gagasan monoteisme yang berarti keyakinan kepada satu Tuhan, tanpa kehadiran tuhan lainnya dalam artefak keyakinan raja-raja Mesir yang bertabur dewa-dewi. Seperti lazim diketahui salah satu “figur” dewa paling digdaya selama masa peradaban mesir adalah Re atau Ra, sang dewa matahari. Namun, dari semua dinasti raja mesir tercatat Amenhotep IV hidup pada 1364 sebelum masehi (generasi rajamesir dinasti ke-18 pendahulu Ramesses II sang Firaun legendaris yangditenggelamkan di laut merah) yang disebut-sebut terpengaruh ajaran monoteistik. Amenhotep IV mendirikan sebuah keyakinan baru bernama Aten, bahkan pada akhirnya mengganti namanya menjadi Akhenaten yang berarti hamba Aten atau pengikut Aten.

Graham Phillips, penulis The End of Eden: The Comet That Changed The Civilization(2007) menuliskan sebuah temuan arkeologis penting Pada 1989 oleh seorang arkeolog Prancis bernama Alain Zivie terkait kepercayaan Aten. Di sebuah tempat dekat Kairo bernama Sakkara, Alain menggali sebuah kuburanperdana menteri dan pemuka agama tertinggi kepercayaan Aten bernama Aper-El.Yang mengejutkan setelah tes DNA sang perdana menteri dan wazir Aten inibukanlah suku asli Mesir, melainkan berasal dari Kanaan, yang bermuasal kepada Yakub atau Jacob, dan melahirkan keturunan Israil.

Nama Aten menjadi menarik dalam wilayah diskusi kepercayaanMesir kuno karena Aten sendiri bukanlah figur kepercayaan yang manifest dalam bentuk patung dan atau representasi lainnya yang berwujud seperti sekhmet, dewi berkepala singa dan banyak bentuk lainnya. Aten, bukan saja tidak ada wujud fisiknya bahkan melarang penyembahan kepada bentuk dan atau nama tuhan-tuhan atau dewa-dewi lainnya. Jika penamaan “tuhan” cukup relevan dan tidak mengundang perbedatan yang tidak perlu, Aten pada masa itu adalah satu-satunya Tuhan, Sementara tuhan lainnya yang dipercaya oleh banyak orang mesir adalah tuhan yang palsu dan semu. Sebagai representasi, aten hanya muncul dalam simbol berbentuk piringan atau cakram (disk).

Temuan Arkeologis Alain Zivie perihal pendeta utama bergelar Aper-El ini memastikan gagasan monoteistik kepercayaan Aten. El sendiri adalah bahasa Ibrani kuno untuk menyebut Tuhan yang satu (TheGod), sedangkan Aper-El berarti pelayan tuhan (servitor of El). Sebagai perbandingan, nama lain nabi Yakub (Jacob) a.s. yang disebut Israil mengandung kata El yang sama yang berarti Tuhan.  Israil artinya yang diperjalankan oleh Tuhan di waktu malam (mungkin menghindari kemarahan saudaranya Esau yang ingin membunuh Yakub).

Kisah Aper-El ini sedikit memberikan gambaran tentang keberlanjutan gagasan keesaan tuhan (tauhid) yang diajarkan melalui garis keturunan agama-agama Abraham atau Ibrahim dan pengaruhnya terhadap dinasti Firaun. Dalam tradisi Islam maupun Kristen jumlah rasul yang populer bertemu dengan raja-raja mesirini kurang lebih sama yaitu Ibrahim (Abraham), Yusuf (Joseph) dan Musa (Moses) beserta saudara laki-lakinya Harun. Akan tetapi ada sedikit perbedaan dalam menyebut raja Mesirmana yang bergelar Firaun. Bibble menyebutkan bahwa semua raja Mesir bergelar Firaun, sementara dalam tradisi Islam, gelar Firaun hanya disematkan padaraja-raja mesir periode kerajaan baru kurun 1500 SM. Ibrahim menurunkan Ishakatau Isaac dan dari garis ini lahirlah Yakub, Yusuf (dan keturunan Israel lainnya. Kemungkinan besar juga karena didahului oleh kepemimpinan Yusuf, penduduk suku Kanaan, yang memiliki wewenang besar dalam pemerintahan kerajaan mesir waktu itu, memberikan kemungkinan yang sama tentang peran luar biasa Aper-El, pemuka agama saat itu. Berdasarkan penanggalan Mesir saat itu, periode Yusuf (juga Musa) berada pada masa permulaan kerajaan baru sekitar tahun1552-1069 sebelum masehi (SM). Menurut catatan sejarah yang valid kerajaan mesir terbagi kepada 3 periode yaitu, kerajaan lama (2700-2200 SM), kerajaan pertengahan (2040-1674 SM), dan kerajaan baru (1552-1069 SM).

Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, pada 1939, menjelang akhir hayatnya, menulis sebuah karya tentang agama berjudul Moses and Monotheism yang konon sedikit mengubah pandangannya tentang agama yang dulu disebutnya secara lantang sebagai sebuah penyakit mental (neurosis) kolektif. Dalam sebuah artikel menarik, Mark Edmundson, seorang profesor sastra Inggris di Universitas Virginia menulis catatan pendek nan menggelitik yang berasal dari bukunya The Death of Sigmund Freud: The Legacy of His Last Days (2007). Menurut Edmundson, Freud dalam sikapnya yang tetap ateistik, menemukan perspektif baru terhadap agama, dan kepercayaan kepada tuhan yang tak terlihat. Menggunakan basis Judaisme, keyakinan yang sedari kecil ia dibesarkan dalam keluarganya, Freud menjelaskan bahwa keyakinan terhadap adanya tuhan membantu menemukan titik balik terhadap kehidupan batiniah, dan melahirkan kemungkinan menjalani hidup yang penuh mawas diri. Terkait Atenisme, Freud berpendapat bahwa ada kemungkinan gagasan tuhan yang satu seperti tampak pada Atenism adalah tuhan yang sama yang dipercaya olehbangsa ibrani pada masa itu (Phillips: 2007). Sebab, seperti Judaism, Atenisme mengajarkan konseptuhan yang abstrak, tuhan yang melepaskan dirinya dari cerapan indera—bahkan menolak semua citraan atas nama Tuhan. Atas hal ini Freud menyebut bahwa gagasan tuhan yang abstrak ini adalah kemenangan intelektualitas atas sensualitas. Lebih jauh, karena kepercayaan terhadap tuhan yang tak terlihat ini pula, yang membuat manusia dapat memahami dengan baik konsep abstrak seperti ditemukan dalam matematika, ilmu hukum, sains, dan seni literer.

Sayangnya, seperti direkam oleh sejarah, masa kepercayaan Aten ini hidup juga berakhir dengan masa jatuhnya Akhenaten. Bahkan oleh penerusnya Tutankhamun, semua yang berhubungan dengan Aten dirusak dan dikembalikan kepada inti ajaran raja-raja mesir sebelumnya; kembali kepada sang dewa matahari Ra dan dewa-dewi lainnya. Beberapa generasi sesudahnya bahkan keturunan israil yang semula menempati tempat terhormat di kerajaan mesir,diperbudak dan diberikan cobaan luar biasa, sampai masa ketika semua anak-anaklaki-laki yang baru lahir harus disembelih. Masa yang kemudian melahirkan Musa dan membimbing Israil keluar dari mesir dan menyeru pada akar spiritual yanglama hilang: Tuhan yang sama yang dikenalkan Ibrahim, nenek moyang bangsaIsrail, dan Bapak tiga agama besar.

@salmanfaridi


Artikel ini diumumkan di Harian Bernas, 15 Desember 2014

Melacak jejak Monoteisme Firaun