Buku cetak adalah teknologi yang paling kompetitif: mudah dibawa, tidak gampang pecah, memiliki resolusi tinggi, dan daya tahan baterai yang lama ~ Russell Grandinetti

Industri cetak telah Mati! Beginilah ramalan yang akhirnya digenapi setelah lahirnya era digital. Industri yang semula gempita dengan jutaan pelanggan dan pendapatan yang stabil dari pemasang iklan harus menghadapi teknologi digital yang bengis: tanpa kertas, konten selalu aktual, dan terutama berbiaya murah. Genderang kematian yang paling kolosal barangkali ditabuh menjelang edisi terakhir majalah Newsweek pada 31 Desember 2012.  Setelah bertahan selama 80 tahun, dua kali berpindah kepemilikan, terpelantingnya pendapatan iklan dan jumlah pelanggan yang terpangkas setengahnya menyisakan 1,5 juta pelanggan dari semula 3 juta, Newsweek akhirnya bertekuk pasrah di depan teknologi digital. Apakah buku akan menemui ajal yang sama?

Sebuah film dokumenter berjudul Out of Print besutan sutradara sekaligus mantan pustakawan, Vivienne Roumani, menawarkan perspektif menarik bagaimana buku cetak perlahan dikangkangi. Dalam sebuah survey yang dilakukan Roumani di beberapa universitas terkemuka di Amerika kepada para pengajar tentang praktik membaca anak didik mereka, muncul tiga jawaban mencengangkan. Siswa mengaku bahwa mereka tidak terbiasa membaca, terlalu banyak distraksi ketika harus membaca dan terlalu sulit. Hasil ini diamini Jeff Bezos, bos sekaligus pendiri Amazon, bahwa dalam 20 tahun terakhir mode membaca tampaknya beralih dari bacaan yang panjang dan intens ke dalam bentuk bacaan pendek.

Jeff Bezos benar bahwa tren membaca sedang berubah. Bahkan Amazon pulalah yang sebagian besar mengubah peta pertarungan buku digital dan buku cetak semakin sengit, termasuk menerbitkan Kindle Singles dan Novellas untuk menampung cerita yang lebih pendek. Kindle Singles adalah penemuan ajaib Amazon yang mengejutkan industri penerbitan di United States (US). Judul-judul buku Kindle Singles yang dalam anggapan semula banyak praktisi penerbitan semata diterbitkan agar dapat dijual lebih murah, ternyata sukses luar biasa. Bahkan penulis besar seperti Stephen King, Amy Tan, Lee Child dan Susan Orlean menikmati menulis dalam format pendek. Buntutnya, hanya dalam kurun dua tahun saja, sejak rilis Januari 2011, menurut the Times, Amazon telah menjual 5 juta Kindle Singles dari total 345 judul buku dengan rata-rata terjual per judul sebesar 14.500 kopi elektronik.

Lebih lanjut, menurut The Economist, data total penjualan ebook di Amerika yang dirilis oleh lembaga analis PricewaterhouseCoopers, menunjukkan bahwa sejak 2009 jumlah buku elektronik yang terjual terus meningkat signifikan. Pada 2009 total terjual buku cetak sebanyak 15,09 miliar dolar, sementara ebook sebesar 820  juta dolar. Empat tahun berikutnya, penjualan buku terus tergerus semakin dalam sehingga menjadi 10,84  miliar dolar pada 2013 sedangkan ebook merangkak naik menjadi  USD 4,52 miliar. Data ini juga memproyeksikan bahwa buku elektronik akan mengambil alih pasar buku di Amerika sepenuhnya pada 2018.

Akan tetapi kiamat buku cetak belum lagi tiba. Bahkan dengan data-data yang menakutkan tentang tumbuh terusnya buku elektronik, buku cetak masih akan bertahan cukup lama. The Economist menurunkan essai cukup ambisius sepanjang lima bab bertajuk The Future of Books yang menjawab mengapa buku cetak masih tetap seksi dan diminati dalam waktu lama. Pertama, teknologi “sederhana” buku cetak ternyata sangat canggih sehingga tidak pernah fakir colokan. Buku cetak mudah dibawa kemana saja dan dapat dibaca kapan saja tanpa butuh baterai. Kedua, penjualan Kindle dan alat pembaca buku elektronik lainnya menurun signifikan. Telepon pintar berbasis android seharga ratusan ribu rupiah kini secara brutal menghabisi pembaca buku elektronik semacam Kindle, Nook, Kobo dan perangkat lainnya. Ketiga, orangtua yang merasa anaknya terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar, memberikan buku cetak sebagai alternatif, terlebih masih banyak orangtua yang merasa perlu menempatkan rakbuku di rumah untuk menumbuhkan minat baca anak.

Teknologi digital sepertinya lahir bukan untuk menggantikan buku cetak melainkan melengkapi. Hal ini misalnya tecermin dari sehatnya industri penerbit cetak di manapun yang masih mencetak keuntungan lebih tinggi dibandingkan penjualan ebook. Bahkan di US yang merupakan early adapter buku elektronik masih menurut The Economist, mengutip data Bloomberg, The Bookseller dan Publishersweekly, hampir semua penerbit besar seperti Penguin, Harper Collins, Random House, Simon & Schuster melaporkan margin keuntungan yang stabil cenderung tumbuh dari buku cetak sepanjang tahun 2010-2013. Seperti halnya pada Maret 2014 setelah memutuskan hanya terbit dalam versi digital saja, edisi cetak Newsweek kembali bangkit dari kematian.

Buku cetak belum mati, ia hanya berevolusi. Pergeseran pembaca yang lebih banyak dikecohkan oleh gadget mungkin menyalakan sinyal hadirnya kebutuhan jenis bacaan baru yang bisa dilahap sekejap, seperti novel sepanjang 40 halaman. Tren ini, stamina 40-an halaman, bukan tidak mungkin melahirkan kebutuhan bacaan yang lebih panjang dan kemudian melahirkan generasi berikutnya yang rakus membaca buku ratusan halaman. Equilibrium baru pun lahir kembali.