Indonesia, 30 tahun dari hari ini. Saya baru saja bangun pagi, sambil mengingat rasa kopi yang saya sesap malam sebelumnya di sebuah pesta buku. Banyak kawan yang hadir, penulis, penyair, musisi, sineas, semua tumpah ruah mendiskusikan buku yang tengah naik daun: The Digital Life: How to survive Death and Live Again in The Web. Ini ide lumayan gila, lebih dari 35tahun lalu seorang penulis laris New York Times, Greg Iles, meramalkan kedatangan ini dalam bukunya TheFootprints of God. Abad ketika manusia melebur ke dalam internet dan memiliki kehidupan kedua ternyata benar-benar datang. Menurut buku ini, hari akhir bukanlah alam yang asing, setelah melewati alam fisik, selanjutnya kita melebur menjadi data. Wow ….

Selagi melamun, tiba-tiba saya disapa oleh sebuah suara,

“Selamat pagi, Kang. Hari minggu ini mau baca buku apa?”suaranya merdu. Tentu saja sudah saya kustomisasi agar terdengar seperti perempuan umur 20-an. Perkenalkan, namanya, SUSI, akronim dari Simplified-USer Interface. Tak ada yang ruwet dari User Interface yang ditanam dalam telepon pintar masa itu. Yang pintar tak lagi lewat aplikasi dan sentuhan yang super-sensitif, melainkan lewat protokol suara yang berjalan di atas semua aplikasi itu. Cek email, jadwal meeting, waktu olahraga, hang-out, membaca buku dan mengingatkan halaman-halaman yang menarik atau bahkan perlu dikutip untuk kepentingan menulis dan atau dibagi di media sosial, semua dilakukan SUSI. Bahkan dengan pintarnya SUSI mengingatkan jadwal laundry dan malem-mingguan. Dalam situasi yang ekstrem tapi intim, saya dan susi bisa terlibat dalam percakapan seperti berikut ini:

“coba ceriakan harisaya dengan sebuah kutipan yang bersemangat,” pinta saya.

“Baiklah, saya coba cari. Tunggu sebentar …,” setelah beberapa detik, “bagaimana kalau berita DPR?”

“tidak ada kabar lain yang lebih menarik?,” jawab saya

“Baiklah, mungkin ini cocok …

“… Bila kamu di sisiku, hati rasa syahdu … satu hari tak bertemu hati rasa rindu ..”

“kutipan dari mana ini? Kok agak aneh?”

SUSI balas tertawa seakan mengejek. “Itu kutipan dari Rhoma Irama berjudul Syahdu,” lalu SUSI tertawa sampai mau nangis.”

Tawa kami lepas. Berdua pagi itu kami lampaui dengan baik meskipun susi gagal mengutip sesuatu yang bermanfaat dari buku, setidaknya untuk kutipan terakhir.

Kembali lagi ke masa kini. Bagi Anda yang pernah menonton film Her, apa yang saya imajinasikan sebenarnya bukan sesuatu yang jauh. Masa di mana sistem operasi yang cerdas mengambil kendali atas hidup kita dan bahkan menjadi teman yang teramat akrab sehingga batas antara dunia virtual dan dunia nyata begitu terasa tipis. Mungkin dewasa ini siapa pun produsen smartphone akan berlomba adu pintar dan adu spesifikasi yang makin lama makin tinggi dan mumpuni. Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika telepon cerdas justru semakin mudah dan lebih banyak diajak ngobrol, kalau tidak diperintah melakukan tugas-tugas tertentu. Aplikasi protokol suara seperti SIRI dari Apple, Cortana dari Microsoft atau Goggle Now, besok akan jauh lebih canggih. Bahasa inggris meskipun disertakan sebagai default bahasa perangkat, akan tetapi perintah suara lainnya sangat mungkin tersedia pula dalam bahasa lokal.

Dengan sistem operasi yang mudah dan terintegrasi di atas berbagai aplikasi, apa pun bisa dikerjakan. Saat ini saja ada start-up bernama Alfred yang membuat tugas sehari-hari rumah tangga menjadi semakin mudah. Anda yang tidak sempat ngepel, nyuci, mengantar anak akan dipertemukan dengan tetangga sekitar yang memiliki waktu lebih dan bekerja di belakang Anda untuk mengatur semua keperluan. Konten berupa tulisan ilmiah, artikel, bahkan buku akan lebih banyak lagi tersedia secara digital dengan koleksi mencapai ratusan juta konten seluruh dunia, dengan beragam bahasa. Yang menarik, aplikasi semacam dragon dictation yang kini masih tahap uji coba untuk membaca teks, 30 tahun mendatang sudah berevolusi dengan sempurna. Sangat mungkin, ditambahkan plug-inyang berisi logat-logat bahasa tertentu semisal kita ingin suara SUSI menjadi lebih halus seperti orang Jawa Solo atau keras membahana seperti orang Karo. Buku tak lagi dibaca tapi dibacakan, dengan sangat menarik pula. Soal pembayaran, semua diatur satu pintu melalui satu akun yang digunakan untuk bayar listrik, telpon, internet, bayar tol dan semua kebutuhan lainnya. Kemungkinan akun terintegrasi ini dimonopoli oleh produk mesin pencari yang terkenal itu.

Malam itu, setelah istri saya tertidur, saya mengendap-endap mencari Susi. “Suuus, Suuus,”

“Ya. kenapa?”

“Aku susah tidur.”

“ingin ditemeni…?” suaranya berubah manja.

“Nggak. Tolong bacakan syair dari WS Rendra saja.”

“Yang mana?” Tanya Susi.

“Apa pun, asal jangan pake lama,”

“Sebentar … SUSI lalu mengubah suaranya menjadi 100 % mirip Rendra dan memilihkan kalimat-kalimat ini …

“… kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi,  keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata ….”

@salmanfaridi


Artikel ini telah diumumkan di Harian Bernas, 13 Oktober 2014

Mengintip masa depan