Alquran, kitab suci umat islam yang kini begitu sering dikutip dalam debat akademik, acara televisi, atau diskusi panas di media sosial, adalah salah satu kitab yang paling banyak disalahpahami, bahkan di antara sesama muslim. Kubu yang skeptis dan cenderung tidak suka dengan Islam, menganggap Alquran sebagai buku manual untuk memperluas tindakan teror.Ironisnya, dalam kelompok muslim ada yang percaya dan bahkan mempraktikkan teror sebagai bagian memuliakan Islam. Bertambah pulalah kesan negatif Islam yang sejak lama digembar-gemborkan sebagai agama haus darah.

Lalu, bagaimana cara yang benar memahami islam? Terutama, bagaimana memahami pesan Alquran yang seolah menyemai bibit kebencian terhadap agama lain, menjelek-jelekkan Yahudi dan Nasrani, bahkan menganjurkan perang? Bagaimana Alquran menempatkan dirinya sendiri dalam semesta pemahaman setiap orang, dan apakah Alquran dapat dianggap bertanggung jawab terhadap kaum muslimin yang mencomot naskah secara acak lalu menjadikannya dalil yang absah untuk melakukan tindakan tertentu? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Bahkan mungkin daftarnya akan semakin panjang.

Mari kita batasi pada satu hal saja karena ini menurut saya yang paling menarik, yaitu apakah Alquran dapat dinalar dan dipahami olehmasyarakat awam? Sebab, jika yang paham hanya segelintir orang saja, Alquran berarti semata relevan untuk kaum terpelajar muslim. Padahal Alquran sendiri menyebutkan bahwa kontennya tidak elitis, ditujukan bagi siapa pun yang mau belajar, dan membuka hatinya, terlebih penting lagi menggunakan bahasa arab untuk memudahkan:dibaca, dibacakan, dihafalkan, dipahami. Karena alasan ini setiap Alquran dimanapun akan dibaca dalam bahasa aslinya, sejak 14 abad lalu.

Bagi saya ada dua hal yang perlu dipegang sebagai kaidah. Pertama, Alquran memang diturunkan untuk semua lapis kelas sosial masyarakat, tidak untuk elit pemuka agama. Bahkan Muhammad dipanggil dengan gelar rasul semata berfungsi sebagai medium pesan-pesan ilahi ini. Tujuan utama pesan ini adalah umat manusia, lalu kaum beriman. Akan tetapi, sembari meyakini bahwa pesan ini diturunkan untuk semua manusia, kita perlu menyadari bahwa, kaidah kedua, lapis pemahaman setiap orang berbeda. Dengan demikian, orang yang kurang paham,karena keterbatasan ilmu atau tidak sempat mendalami secara khusus ilmu-ilmu Alquran, perlu belajar kepada orang yang lebih paham. Pada akhir abad ke-6 masa kenabian Muhammad, sahabat bertanya kepada Rasulullah. Tabiin (generasisetelah sahabat rasul) bertanya kepada sahabat dan bergenerasi sesudahnya muridbertanya kepada guru. Bertanya adalah salah satu metode mendapatkan pengetahuan. Yang tidak pernah bertanya kemungkinan ada dua; malas bertanya dan atau merasa sudah yakin dengan pemahamannya sehingga tidak perlu bertanya kepada ahli ilmu.

Setiap orang, tidak terbatas muslim, di manapun dan kapanpundapat membaca pesan Alquran. Jika, tidak mengerti bahasa arab, pertama-tama membaca melalui hasil terjemahnya. Selanjutnya, bergantung pada niat sipembaca. Apakah mau membaca tingkat lanjut atau cukup berdasarkan bacaan terjemah saja. Pembaca yang merasa cukup dengan terjemahan akan sama mendapatkan manfaatnya dengan yang ingin membaca lebih lanjut dalam kadar manfaat yang berbeda. Ibarat beras, seseorang yang cukup nikmat mengunyah beras dan yang mendapatkan kenikmatan memakan nasi tentu berbeda. Allah memberikan pahala sesuai besar upaya yang dikeluarkannya. Maka kebodohan seringkali bukan karena Allah, tetapi karena malas berburu pengetahuan yang sesungguhnya tak terbatas.

Dalam sebuah diskusi yang asyik, saya mengutip apa yang disampaikan oleh salah satu pendiri Fahmina Institute sekaligus kandidat doktor dari ICRS,UGM, Faqihuddin Abdul Qodir, bahwa setiap muslim memiliki kewenangan atau otoritas yang sama untuk memahami dan memberikan tafsir terhadap ayat Alquran, sama setaranya dengan para alim ulama. Sejauh tertentu, kapling atas wilayah pemahaman alquran tentu tidak didominasi semua oleh para mufassir. Akan tetapi, syaratnya, melekat dengan keingintahuan si pembaca terhadap satu teks, terikat pula kewajiban lainnya untuk bersikap rendah hati dan mendiskusikan pemahamannya dengan yang lain. Kerendahan hati menjaga sikap takabbur sehingga pemahaman yang mungkin keliru bisa dikoreksi melalui jalan diskusi. Akan tetapi memberikan otoritas kepada muslim yang awam bukan tanpa bahaya. Seturut apa yang terjadi dengan Socrates ketika mengampanyekan filsafat untuk semua, sang filsuf menjadi martir untuk gerakan kampanyenya sendiri. Jika, tidak dibarengi dengan pemahaman yang benar, bukan tidak mungkin meletakkan otoritas kepada setiap muslim untuk memahami alquran sebagaimana teks itu dipahami oleh individu,tanpa cek-silang dan tuna-ilmu, akan berakibat sama fatalnya.

Coba simak pembacaan Alquran oleh seorang Yahudi Agnostik, juga pengarang buku The First Muslim,Lesley Hazleton, untuk membantu kita memahami gagasan “pemahaman” alquran. Menurutnya, kesalahan yang banyak terjadi ketika membaca Alquran adalah seolah-olah kita sedang membaca sebuah buku pada umumnya yang dibaca sore har isaat hujan dengan setoples jagung bakar dan menganggap Tuhan ibarat penulis lainnya yang memuncaki daftar buku laku. Fakta bahwa sangat sedikit orang yang “benar-benar”membaca Alquran menunjukkan bahwa Alquran begitu mudah dikutip; tepatnya dikutip secara keliru. Frasa dan potongan teks ayat suci yang tak lengkap dikutip di luar konteks, dan umumnya menjadi favorit muslim fundamentalis maupun antimuslim yang benci Islam. Pengalaman Lesley menunjukkan bahwa semakin ditekuni, Alquran membuka lapis-lapis maknanya. Bahwa kesabaran, pada akhirnya akan ada hasilnya. Tidak pernah ada gagasan surga yang dijejali oleh 72 perawan di dalam Alquran. Surga bukanlah tentang keperawanan, tetapi keberlimpahan. Taman-taman dengan aliran air yang tak pernah surut.

Konon, pengetahuan yang benar seperti anggur yang nikmat tetapi tidak memabukkan. Dan pencari ilmu yang mereguknya menyisakan banyak kesadaran untuk diskusi dan berbagi kebijaksanaan.