“kita tidak pernah benar-benar hidup di masa depan

Sebab kita selalu hidup di hari ini,”  ~ Pidi Baiq

Pada 1949 ketika George Orwell menyelesaikan magnum opus-nya, 1984, ia termasuk di antara sedikit penulis brilian yang meramalkan masa depan. Novel Orwell terakhir yang sering disebut  terpengaruh karya novelis futurolog Aldous Huxley, BraveNew World, secara dramatis menggambarkan lompatan waktu berdasar situasi-situasi akhir tahun 1940-an yang mencekam: partai buruh berkuasa di Inggris,Nazi Jerman baru saja diusir, lalu dunia dihadapkan pada kegarangan dua Negara komunis terbesar Uni Soviet dan China. Inikah awal dari mimpi buruk?

Dalam impian futuristik Orwell, masa depan adalah sesuatu yang muram. Dunia baru didominasi oleh gesekan kekuatan besar yang saling bertarung serta berusaha mencapai dan menguasai sebanyak mungkin sumber daya dengan tiga slogan besarnya yang membius: perang ialah damai, kebebasan ialah perbudakan, kebodohan ialah kekuatan. Untuk mencapai ambisi-ambisi besar yang diciptakan Bung Besar, setiap orang dikontrol ketat oleh partai, kampanye dilakukan setiap hari, dan kebohongan demi kebohongan dipropagandakan sebagai kebenaran.

Apa pun kebenarannya, yang jelas Orwell tidak sempat hidup menyaksikan ramalannya. Ia meninggal pada tahun yang sama, tepatnya tujuh bulan kemudian, setelah menyelesaikan novel 1984. Namun, gagasannya tentang masadepan yang kelam, masa ketika peradaban manusia diuji hingga ke titik nadir rupanya tetap hidup. Genre novel futuristik nan suram ini (dystopia) sekarang menjadi trendsetter dan telah melahirkan judul-judul best-seller mulai dari trilogy The Hunger Games, Divergent, dan yang terbaru trilogy The Maze Runner.

Kesemua naskah ini memiliki kesamaan tentang dunia baru yang harus bertahan setelah diterpa bencana dahsyat, atau boleh disebut kiamat. Karena alasan ini, novel-novel dystopia juga sering digolongkan ke dalam novel-novel post-apocalyptic, atau novel-novel pasca-kiamat. Termasuk di antara novel paling mencekam adalah karya Cormac McCarthy,The Road, besutan tahun 2006 dan terpilih sebagai pemenang Pulitzer Prize setahun sesudahnya pada 2007.

Manusia, tampaknya, sering kali tergoda bahkan kalau bisa mencuri kesempatan untuk melihat masa depan walaupun hanya sekilas saja.Padahal, apa yang menarik dari masa depan? Mungkin tidak ada, dan tidak ada yang tahu. Masa depan adalah sesuatu yang serba tak pasti. Satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Namun, toh hal ini tidak menghentikan kita untuk merencanakan masa depan. Satu hal yang niscaya, setidaknya, ketidakpastian itu telah mendorong lahir dan tumbuh suburnya industri dan produk keuangan semacam tabungan hari tua, deposito, asuransi jiwa, asuransi plus investasi berikut ahli perencanaan keuangannya menjadi bisnis tak terelakkan abad ini. Ini semua karena dalam bawah sadar kita mengamini, bahwa,seandainya masa depan itu tak pasti, kematian adalah sesuatu yang tak terhindarkan.

Yang penting diikuti dalam gagasan dystopia ini sebenarnya seberapa besar manusia bisa bertahan jika dihadapkan pada pilihan-pilihan teramat sulit yang taruhannya adalah nyawa, bahkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Penulis The Road mengandaikan bahwa insting manusia yang primal pada akhirnya bertahta atas nurani, dan sepanjang tujuannya bertahan hidup, memangsa sesama tentu bukan perkara keliru. Maka di sepanjang novel ini kita disuguhi kengerian bukan pada hal-hal yang jauh, tetapi pada potensi primitif manusia yang mengerikan, yang dapat melakukan hal-hal yang tak terbayangkan, terkadang sambil mencatut nama tuhan.

Beruntung, bahkan, pada masa paling gelap sekalipun, selalu ada cahaya. Freud mungkin keliru jika mencandra manusia semata pencari kepuasan nafsu semata. Sama kelirunya dengan Alfred Adler yang menaruh manusia sebagai makhluk haus kuasa, mungkin seperti anggota DPR yang menyabotase hak pilih rakyat. Kedua filsuf sekaligus psikoterapis, agaknya harus menjura kepada Victor Frankl yang meletakkan harapan sebagai elan vital manusia, satu alasan mengapa manusia bertahan hidup! Sayangnya, Orwell, membiarkan Winston si tokoh utama dalam 1984 dibekuk partai dan dicuci otak, sementara trilogy The Maze Runner dan novel dystopia lainnya menyelipkan asa sekaligus cinta yang mengobarkan semangat hidup dan keluar dari jebakan labirin. Inilah mungkin resep mengapa novel-novel futuristik yang suram itu disukai.

@salmanfaridi


Artikel ini dimuat di Harian Bernas, 29 September 2014

Terjebak dalam labirin dystopia